Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #9

Rahasia Bima

Atas usulan Sarah yang disetujui dengan enggan oleh Bima—yang hanya bisa meluangkan waktu dua jam di antara jadwal audit keuangannya—mereka memutuskan untuk mencoba metode baru dalam rangka memulihkan ingatan mereka, yaitu liburan bersama.

Bukan liburan mewah ke luar kota, melainkan hanya kunjungan singkat ke sebuah taman kota di daerah Jakarta Selatan yang rimbun oleh pepohonan trembesi. Sarah berharap, jika atmosfer rumah terlalu menyesakkan untuk memancing ingatan, mungkin ruang terbuka hijau dan hiruk-pikuk publik bisa meruntuhkan blokade di kepala mereka.

Siang itu, taman kota cukup ramai. Anak-anak kecil berlarian mengejar balon, sementara beberapa keluarga menggelar tikar di bawah naungan pohon. Keluarga Wijaya berjalan beriringan di atas jalan setapak semen. Bima berjalan di paling depan dengan langkah kaku, mengenakan kaus polo rapi yang nampak terlalu formal untuk suasana piknik. Di belakangnya, Nino berjalan lambat dengan satu tangan di saku celana, sementara Clara menggandeng lengan Sarah dengan jemari yang dingin.

Mereka mencoba melakukan apa yang dilakukan keluarga normal. Bima membelikan es krim untuk Clara dan Nino, lalu mereka duduk di sebuah bangku panjang dari besi yang menghadap ke kolam teratai.

"Es krimnya ... enak, Pa," ucap Clara dengan susah payah.

Bima hanya mengangguk sekali, pandangannya lurus menatap riak air kolam. "Bagus kalau kamu suka."

Percakapan itu kembali mati. Usaha untuk menciptakan momen liburan ini terasa seperti menaruh empat potong manekin di tengah taman. Mereka ada di sana secara fisik, tetapi pikiran mereka masing-masing mengembara ke tempat lain. Meratapi kepalsuan yang sedang mereka pertontonkan.

Tiba-tiba, angin siang berembus kencang, menggugurkan beberapa daun kering di atas rumput. Bersamaan dengan itu, pandangan Bima tanpa sengaja menyapu area jembatan kayu di seberang kolam teratai, sekitar lima puluh meter dari tempat mereka duduk.

Jantung Bima mendadak seperti dihantam palu.

Di atas jembatan itu, berdiri seorang perempuan. Ia mengenakan setelan kasual, kontras dengan sabak digital yang ada di tangannya. Perempuan itu tidak bergerak. Ia berdiri di pangkal jembatan. Bima berani bersumpah, beberapa saat yang lalu perempuan itu menatap lurus ke arah bangku besi tempat keluarga Wijaya berada.

Lihat selengkapnya