Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #10

Catatan Hari Minggu

Sore itu, keheningan di dalam rumah terasa lebih menekan daripada biasanya. Setelah memastikan Nino dan Clara belum pulang dari kegiatan ekstrakurikuler mereka, serta Bima masih tertahan di pusaran rapat korporatnya, Sarah melangkah turun ke lantai satu. Langkah kakinya sengaja dibuat seringan mungkin di atas derit halus lantai parquet meskipun dia sendirian di rumah itu.

Tujuan Sarah adalah ruang kerja kecil Bima di bawah tangga.

Sarah mendorong pintu kayu ruang kerja Bima yang sedikit renggang. Bau antiseptik, aroma kertas-kertas tua, dan sisa wangi kopi hitam yang mengering langsung menyambut penciumannya. Ruangan itu rapi, dingin, dan kaku, persis pemilik ruangan itu.

Sarah langsung menuju meja jati besar. Jemarinya bergerak cepat sekaligus hati-hati memeriksa laci-laci meja yang tidak terkunci, menyelip di antara tumpukan dokumen finansial, tagihan rumah sakit, dan surat utang perusahaan. Sarah mencari sesuatu yang tidak selaras dengan dunia korporat Bima. Struk belanja dari butik wanita, aroma parfum asing pada dokumen, atau mungkin sebuah gawai lama yang disembunyikan.

Pencariannya di laci pertama dan kedua tidak membuahkan hasil. Namun, ketika ia membuka laci ketiga yang terletak paling bawah di balik tumpukan map cokelat usang, jemarinya menyentuh sebuah buku agenda kulit kecil berwarna biru tua tanpa logo perusahaan.

Sarah menarik buku itu keluar. Jantungnya berdegup kencang bak ketukan palu.

Ia membuka halaman demi halaman. Buku itu sebagian besar berisi catatan angka, grafik pengeluaran eksekutif, dan tenggat waktu proyek modal. Namun, ketika halaman-halaman itu bergeser ke bagian belakang, gerakan tangan Sarah mendadak berhenti.

Ada sebuah lembar halaman yang berisi tabel tulisan tangan Bima. Polanya sangat rapi, konstan, dan berulang selama enam bulan terakhir.

Minggu, 19.00 – 21.00 (Slot R)

Minggu, 19.00 – 21.00 (Slot R)

Minggu, 19.00 – 21.00 (Slot R)

Lihat selengkapnya