Hari kesepuluh sejak mereka kehilangan ingatan rasanya datang begitu cepat. Sisa 20 hari seolah menyedot udara dari paru-paru tiap anggota keluarga itu, membuat mereka sesak dan mual. Setelah drama Sarah dan Bima dua hari lalu, mereka secara tidak langsung seperti menandatangani surat tidak terlihat untuk melupakan kejadian yang lalu tanpa mengungkitnya. Hal ini tentu didesak oleh kenyataan bahwa waktu mereka semakin sempit, sehingga mau tidak mau mereka harus kembali bekerja sama.
Malam itu mereka beralih ke metode baru. Metode digital. Nino duduk di karpet bulu ruang tengah, dikelilingi oleh dua gawai milik orang dewasa di rumah itu, ditambah laptopnya sendiri yang menyala menampilkan barisan folder enkripsi. Sebagai remaja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia maya, Nino mengajukan ide ini. Jika otak mereka menolak memunculkan memori, maka biarkan jejak digital yang berbicara.
"Gue udah kloning data dari akun cloud kalian masing-masing," ucap Nino, jemarinya bergerak cepat di atas trackpad. Suaranya datar, tanpa antusiasme. "Riwayat obrolan, galeri foto tersembunyi, sampai log lokasi Google Maps enam bulan terakhir. Kalau kita pernah punya hubungan emosional, server Google pasti mencatatnya."
Bima duduk di sofa tunggal dengan tangan bersilang di dada, sementara Sarah duduk di ujung sofa panjang, menjaga jarak aman. Clara meringkuk di dekat ibunya, menatap layar laptop Nino dengan mata bulat yang sarat akan kecemasan. Namun, begitu Nino mulai membuka folder demi folder, keheningan yang janggal kembali merayap.
"Ini ... aneh," gumam Nino, alisnya bertaut erat saat memeriksa folder Keluarga Wijaya.
"Apa yang aneh, Nino? Apakah ada berkas yang korup?" tanya Bima.
Nino menggeleng pelan, memutar layar laptopnya agar bisa dilihat oleh Bima dan Sarah. "Bukan korup, tapi kosong. Maksud gue, bukan gak ada data sama sekali, tapi data interaksinya minim banget. Hampir gak ada foto keluarga. Ini ada foto liburan ke Bali, tanggalnya dua tahun lalu itupun cuma ada tiga foto. Mana posenya kaku banget kayak orang asing yang kebetulan beli paket tur yang sama."
Sarah menatap layar itu. Dadanya terasa nyeri. Jejak digital mereka bukan menunjukkan sebuah keluarga yang hangat, melainkan dua orang dewasa yang berbagi tagihan air dan listrik. Tidak ada video Nino yang sedang belajar gitar, tidak ada rekaman Clara yang sedang merajuk. Arsip digital mereka sama gersangnya dengan rumah beton yang mereka tinggali sekarang.
Nino kemudian membuka folder cadangan pesan WhatsApp antara Bima dan Sarah selama satu tahun terakhir. Ia melakukan pencarian kata kunci dengan algoritma sederhana, mencari kata-kata emosional seperti 'sayang', 'kangen', atau sekadar obrolan panjang. Hasil pencariannya nihil.
Isi percakapan antara suami dan istri itu selama ratusan hari hanya berisi pesan-pesan pendek.
Bima: "Saya pulang jam 9."