Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #12

Ruang Hijau di Halaman Belakang

Pagi itu, kepura-puraan dihentikan karena mereka terlalu lelah untuk berakting menjadi sebuah keluarga. Rumah itu kembali ke setelan pabriknya yang paling mengerikan. Dingin, sunyi, dan terasing, persis seperti hari pertama mereka terbangun tanpa memori. Mereka menyerah. Jika hari ke-30 adalah hari kiamat bagi mereka, mereka memilih menyambutnya secara terpisah tanpa ada lagi usaha memaksakan kehangatan.

Bima tidak lagi memedulikan papan tulis, folder data, atau agenda wawancara keluarga. Pria itu mengunci diri sepenuhnya di ruang kerja bawah tangga sejak pukul enam pagi. Di atas meja jatinya, tumpukan berkas utang perusahaan, surat peringatan dari bank, dan grafik bursa saham yang hancur berserakan tanpa urutan.

Bima duduk di kursi dengan kepala bertumpu pada kedua telapak tangan. Bayangan perempuan di kafe Sudirman yang juga muncul di taman tempo hari terasa seperti halusinasi yang mengejek kewarasannya. Rasa frustrasi karena tidak mampu memanggil memori berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa perusahaannya di ambang keruntuhan. 

Meskipun demikian, rasa gengsinya menolak untuk terlihat hancur di depan orang-orang di rumah ini yang disebut sebagai ‘keluarganya’. Pria itu memilih menutup diri dari dunia luar dan dunia dalam rumah, pasrah pada kehancuran finansial yang berjalan beriringan dengan hilangnya waktu mereka.

Di lantai atas, Nino kembali ke gua pengasingannya. Pintu kamarnya tertutup rapat, dengan selembar kertas bertuliskan "JANGAN MASUK" yang ditempel kasar di depannya menggunakan selotip hitam. Remaja itu berbaring telentang di atas kasur, sepasang earbuds menyumpal telinganya dengan volume maksimal, memutar lagu-lagu yang bising untuk membungkam kesunyian rumah yang mencekik. Nino telah berhenti peduli.

Baginya, menyadari bahwa relasi digital mereka begitu hambar adalah bukti bahwa mereka tidak pernah menjadi keluarga yang bahagia bahkan sebelum ingatan mereka dihapus. Mengapa harus bersusah payah menyelamatkan sisa-sisa dari sebuah rumah tangga yang bahkan sebelum hilang ingatan pun sudah terasa asing? Ia memilih abai, membiarkan musik meredam hitung mundur di kepalanya.

Sementara itu, Clara duduk diam di sudut lantai kamarnya sendiri. Tidak ada lagi meja makan yang dipenuhi piring-piring makanan hangat atau usaha Sarah untuk merajut obrolan. Di hadapan Clara hanya ada selembar kertas gambar besar dan beberapa krayon yang berserakan. Jemari kecilnya menggoreskan warna hitam dan abu-abu, membentuk pola-pola abstrak yang kelam. Ketakutan bahwa ia akan lenyap ke dalam ketiadaan membuat Clara kehilangan seluruh energinya.

Sarah sendiri membiarkan rumah itu jatuh ke dalam keheningan. Ia tidak lagi memaksakan diri bangun pagi untuk memasak sup iga, tidak juga membersihkan debu-debu yang mulai menumpuk di atas meja makan. Rasa curiga yang pekat terhadap Bima dan misteri ‘Slot R’ di hari Minggu malam masih membakar ulu hatinya. Meskipun demikian, saat ini dia sudah berada di ambang kepasrahan.

Meskipun demikian, Sarah menolak untuk larut dalam pusaran kegelapan di dalam rumah. Jika memang harinya akan berakhir nanti, setidaknya dia sudah menghabiskan sisa waktunya dengan hal yang tidak akan ia sesali. Sarah berjalan ke area kebun kecil pribadinya, bersiap untuk menyapa rumpun Monstera deliciosa dan deretan pot kuping gajah kesayangannya. Bagi Sarah, aroma tanah basah yang menguar setelah disiram air selalu memiliki cara tersendiri untuk menenangkan saraf yang tegang. 

Sarah berlutut di atas selembar alas kain. Rambutnya diikat asal-asalan ke belakang dan ujung jemarinya sudah menghitam karena tanah yang gembur. Dengan penuh kehati-hatian, ia mengusap permukaan daun Monstera yang lebar. Tanaman itu sempat telantar, beberapa daun barunya gagal membuka dengan sempurna dan membusuk di bagian batang akibat stres lingkungan.

Crik.

Sarah memotong dahan yang membusuk itu dengan gunting tanaman. Gerakan tangannya penuh ketenangan. Sesuatu yang sangat kontras dengan sosok Sarah di dalam rumah yang selalu tegang, penuh curiga, dan kaku seperti robot yang diprogram untuk cemas. Di sini, di bawah bayang-bayang daun hijau, wajahnya melembut.

Dari balik kaca jendela lantai dua, sepasang mata bulat mengamati setiap gerak-gerik Sarah.

Clara berdiri di sana sejak tiga puluh menit yang lalu. Di mata Clara, perempuan yang dipaksa menjadi ibunya itu terlihat sangat berbeda sore ini. Tidak ada tatapan interogasi yang dingin seperti saat makan malam, tidak ada senyuman palsu yang dipaksakan. Sarah hanya seorang perempuan yang sedang menyayangi tumbuh-tumbuhan dengan tulus. Ada kedamaian yang memancar dari punggung Sarah yang melengkung merawat pot-pot tanah liat itu. Kedamaian yang sangat diinginkan Clara untuk mendekat.

Didorong oleh rasa sepi yang teramat sangat dan ketakutan yang tidak lagi tertahankan, Clara memutar kenop pintu kamarnya. Ia turun tangga tanpa suara, melewati ruang tengah yang sunyi, lalu mendorong pintu kaca belakang.

Lihat selengkapnya