Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #13

Usaha yang Palsu

"Gua gak salah dengar?"

Nino melipat kedua tangannya di dada, bersandar pada pilar kayu di dekat pintu dapur. Matanya yang tajam menatap tidak percaya ke arah Sarah dan Clara yang duduk berdampingan di kursi makan. 

"Mama serius, Nino. Clara juga melihatnya." Sarah meyakinkan, suaranya bergetar oleh sisa-sisa luapan emosi dari halaman belakang tadi. Tangannya menggenggam jemari Clara yang masih menyisakan sedikit noda tanah kering. "Hanya sekelebat. Sepuluh detik, mungkin kurang. Tapi itu nyata. Ada air selang, ada tawa, dan kami berdua ada di sana. Memorinya terpicu begitu saja saat tangan kami bersentuhan untuk memotong dahan kuping gajah."

Bima, yang semula duduk kaku dengan cangkir kopi hitamnya, perlahan meletakkan cangkir itu. Matanya mendadak memancarkan secercah cahaya yang telah lama hilang. Harapan.

"Jadi ... kuncinya bukan data kuantitatif," gumam Bima, menyuarakan analisisnya. "Kuncinya adalah stimulasi emosional yang murni. Ketulusan."

"Tepat," sahut Sarah, napasnya agak memburu. "Kita tidak bisa memaksakan ingatan itu keluar lewat interogasi atau obrolan palsu. Kita harus melakukan sesuatu secara spontan. Sesuatu yang melibatkan perasaan."

Mendengar kata 'perasaan', Nino hanya mendengus sinis. Meskipun demikian, di dalam hatinya ada rasa iri dan penasaran yang membuncah. Jika Sarah dan Clara bisa mendapatkan serpihan masa lalu mereka hanya karena sebatang tanaman, artinya sistem penghapus memori ini tidak sepenuhnya permanen. Masih ada jalan pulang.

Keesokan paginya, atas kesepakatan bersama yang didorong oleh harapan baru tersebut, keluarga Wijaya berkumpul di halaman belakang. Langit pukul sembilan pagi itu cerah, tetapi atmosfer di atas rumput jepang terasa begitu kaku. Mereka sengaja menjadwalkan agenda ini untuk mencoba memantik kenangan.

Lihat selengkapnya