Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #14

Janji Suci

Hari demi hari mereka lewati tanpa usaha lebih lagi. Memantik ketulusan ternyata tidak semudah itu, bahkan memaksakan diri untuk nampak peduli pun nyatanya tidak cukup untuk memantik memori mereka. Ketika hari ke-15 datang, tepat separuh sisa waktu mereka, mereka seperti sudah mulai pasrah. Mereka banyak menghabiskan waktu dengan diri mereka masing-masing, agar setidaknya mereka tidak menyesal jika kiamat terjadi di hari ke-30 nanti.

Momen percikan memori antara Sarah dan Clara tempo hari seolah menguap menjadi mitos singkat, tidak meninggalkan jejak lanjutan selain rasa canggung yang semakin tebal. Mereka kembali berjalan di jalurnya masing-masing, sadar bahwa kepura-puraan tidak akan menghasilkan apa pun selain keputusasaan.

Sore itu, pukul setengah enam, Bima melangkah keluar dari gedung perusahaannya di kawasan Sudirman. Udara sore Jakarta terasa lembap dan pekat oleh asap kendaraan. Seperti biasa, kepalanya berdenyut cengkeram oleh beban pekerjaan yang seperti tak pernah habis.

Akan tetapi, ketika ia menyusuri trotoar menuju tempat parkir mobil, dia tak sengaja melihat sesosok pria tua yang terduduk di atas bangku plastik kumal di dekat sudut jalan. Di hadapan pria tua itu, tergelar selembar terpal plastik yang memajang bermacam-macam perkakas rumah tangga sederhana seperti pisau dapur, gantungan baju kawat, saringan santan, dan beberapa pot tanah liat berukuran sedang. Pria tua itu tertidur ayam dengan jemari yang gemetaran memegang kipas anyaman bambu, tampak begitu lelah dan putus asa menunggu pembeli yang tak kunjung datang.

Bima menghentikan langkah pantofelnya. Sebetulnya, Bima tahu betul bahwa tidak ada satu pun barang di atas terpal itu yang bernilai baginya. Pria itu merogoh saku jasnya, berniat mengambil dompet untuk sekadar memberi uang tunai, tetapi egonya menahan. Pria tua itu berdagang, bukan meminta-minta.

Bima berjongkok di tepi terpal. Matanya menyapu barang-barang murah itu dengan bingung. Ia tidak butuh pisau dapur baru, tidak juga butuh gantungan baju kawat. Namun, matanya kemudian tertambat pada sebuah pot tanah liat berwarna terakota polos. Pot itu buatan tangan yang kasar, permukaannya tidak rata, tetapi cukup kokoh.

Tanpa sadar, sebuah ingatan terlintas di benaknya. Sarah jago berkebun.

Bima mengulurkan tangan, mengambil pot tersebut. "Pak, saya beli yang ini."

Penjual tua itu tersentak kaget, terbangun dari kantuknya dengan mata berair yang memerah. Wajahnya yang penuh kerutan seketika berbinar cerah. Dengan tangan gemetar, ia membungkus pot tanah liat itu menggunakan koran bekas.

"Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih," bisik penjual tua itu, suaranya agak serak oleh rasa syukur yang mendalam. Saat menerima lembaran uang dari Bima, ia menatap mata Bima tulus. "Semoga Gusti Allah membalas kebaikan Mas. Semoga rumah tangganya selalu diberi ketenangan, diberkahi, dan dipenuhi rasa kasih."

Bima terpaku mendengar doa yang meluncur dari mulut pria tua itu. Kata 'kasih' terasa begitu asing, berat, dan hampir melukai dadanya yang selama lima belas hari ini membeku. Tanpa sanggup membalas dengan kata-kata, Bima hanya mengangguk pelan, menyambar pot berbungkus koran itu, lalu melangkah pergi membawa beban doa yang teramat berat di dadanya.

Di saat yang bersamaan, di dalam dapur rumah keluarga Wijaya, Sarah sedang berdiri di depan konter granit.

Suasana rumah sedang sangat sepi. Nino mengurung diri di lantai atas, sementara Clara sedang tertidur lelap di kamarnya karena kelelahan. Sarah baru saja selesai membuat segelas jus jeruk peras segar untuk dirinya sendiri. Ia menyandarkan punggungnya pada lemari es, meresapi rasa asam manis yang dingin di tenggorokannya sambil menatap jam dinding yang berdetak.

Pukul enam lewat seperempat. Sebentar lagi Bima akan pulang.

Sarah menatap gelas di tangannya, lalu pandangannya beralih ke pintu utama yang masih tertutup rapat. Meskipun hatinya masih dipenuhi oleh racun kecurigaan bahwa Bima-lah dalang dari semua kejadian ini karena sesuatu hal yang sedang Bima sembunyikan, ada satu kenyataan kasatmata yang tidak bisa Sarah pungkiri. Bima terlihat sangat hancur akhir-akhir ini. Garis-garis hitam di bawah mata suaminya dan tubuhnya yang kian kurus terus membayang di kepala Sarah.

Lihat selengkapnya