Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #15

Memperbaiki Tatanan

Pagi di hari ke-16 berhembus dengan cara yang sama sekali berbeda. Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak malam penghapusan, ruang makan keluarga Wijaya berbau sangrai kopi arabika dan mentega leleh. Sarah berdiri di balik konter dapur, mengenakan celemek kainnya. Wajahnya tidak lagi sepucat hari-hari sebelumnya. Ada rona hangat di pipinya, meski bekas kelelahan emosional di sudut matanya. Di sebelahnya, Bima duduk santai hanya dengan kemeja putih bersetrika rapi yang lengan bagian sikunya dilipat. Pria itu menyesap kopi hitamnya perlahan, matanya memperhatikan gerak-gerik Sarah dengan tatapan yang sarat akan kehangatan yang baru ditemukan kembali.

"Kamu ... tidak ke kantor pagi ini, Mas?" tanya Sarah lembut seraya meletakkan piring berisi roti panggang dan telur mata sapi di hadapan Bima.

Bima mendongak, tersenyum tipis. "Saya sudah minta sekretaris saya menjadwalkan ulang rapat bursa sampai jam sepuluh. Ada hal yang jauh lebih penting di rumah ini yang harus saya selesaikan."

Di ujung tangga, sebuah derit halus terdengar. Nino berdiri di sana dengan wajah bantal dan rambutnya acak-acakan. Di belakangnya, Clara menyusul dengan langkah kecil seraya mengucek matanya.

Kedua remaja itu mendadak menghentikan langkah mereka di undakan tangga terakhir. Mata Nino memicing tajam. Ada sesuatu yang tidak beres dengan atmosfer ruang makan pagi ini. Tidak ada ketegangan yang biasanya memenuhi udara. Tidak ada bau permusuhan tersembunyi antara kedua orang dewasa asing yang memaksakan diri menjadi keluarga itu. Sebaliknya, Bima baru saja meraih tangan Sarah di atas meja, mengusap punggung tangannya pelan sebelum Sarah berbalik untuk mengambilkan mentega.

"Ini ... ada apaan?" gumam Nino curiga, nada suaranya kombinasi antara canggung dan bingung. "Kok lu berdua akur?"

Sarah menoleh, menatap hangat ke arah kedua anaknya. "Nino, Clara, ayo sarapan. Mama buat roti panggang."

Kata 'Mama' meluncur dari mulut Sarah dengan begitu alami, tanpa ada jeda atau nada ragu seperti sebelumnya.

Clara menjadi yang pertama melangkah mendekat. Anak perempuan itu merasakan perubahan energi di ruangan tersebut dengan suka cita. Ia duduk di kursi sebelah Sarah, menatap ibunya lalu beralih pada Bima. "Papa sama Mama sudah ingat?"

Bima menghela napas panjang. Pria itu meletakkan cangkir kopinya, lalu memandang Clara lurus-lurus. "Yah, belum sepenuhnya Clara. Tapi, Papa dan Mama cukup ingat bahwa kita memang keluarga. Papa minta maaf kalau selama dua minggu ini Papa bikin kamu takut."

Lihat selengkapnya