Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #16

Giliran Nino

Dua hari kemudian, suasana rumah masih dipenuhi oleh Bima dan Sarah yang sedang berusaha ‘saling mengenal’ dan dua remaja yang masih canggung. Pukul dua dini hari saat semua orang sudah terlelap, hujan gerimis turun tipis, membasahi kaca-kaca jendela dan menciptakan nada pengantar tidur yang indah. Meskipun demikian, Nino terbangun dari tidurnya di lantai dua. Meskipun suara hujan mengalun, tetapi tidak cukup bisa menutupi sebuah isakan pelan.

Nino duduk di tepi ranjang, meremas rambutnya dengan gusar. Isakan itu berasal dari kamar sebelah, kamar Clara. Suaranya kecil, gemetar, dan sangat mengganggu.

Nino menghela napas kasar, mengusap wajahnya yang masih dililit kantuk dan rasa jengkel. Ada sebagian dari dirinya yang menyuruhnya menyumpal telinga dan membiarkan Sarah atau Bima yang mengurus Clara. Namun, dinding kamar ini tipis, dan suara tangisan itu terus berlanjut tanpa tanda-tanda berhenti. Karena merasa tidak ada jalan lain untuk bisa kembali tidur nyenyak, Nino akhirnya mendesis pelan, mengutuk keadaan, lalu bangkit dari tempat tidur.

Dengan langkah kaki telanjang, Nino mendorong pintu kamarnya. Ia melangkah menyusuri lorong remang-remang, lalu mengetuk pintu kamar Clara tanpa ketukan yang ramah.

"Clara," panggil Nino datar dari luar, nada suaranya mengindikasikan rasa terganggu yang jelas. "Bisa diam nggak? Orang mau tidur."

Tidak ada jawaban, hanya hembusan napas yang makin memburu dan isakan yang menajam. Nino mendengus, memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci, lalu mendorongnya masuk.

Di dalam kamar yang hanya diterangi remang lampu tidur berbentuk bulan, Clara meringkuk di sudut ranjangnya. Kedua tangannya memeluk erat boneka beruang kesayangannya, sementara tubuhnya gemetar hebat. Air mata telah membasahi pipi dan sprei di bawahnya.

Nino menyandarkan bahunya di bingkai pintu, melipat tangan di dada dengan pandangan sinis yang biasa. "Menangis jam dua pagi nggak bakal bikin kita mendadak inget semua, Clar."

Clara mendongak, matanya yang sembap menatap Nino dengan pandangan yang membuat lidah sinis Nino mendadak terdiam. 

"Kak Nino ..." bisik anak perempuan itu, suaranya pecah. "Clara takut. Clara mimpi hari ke-30 itu datang besok pagi. Rumah ini mendadak gelap. Terus Kak Nino, Papa, sama Mama tiba-tiba hilang. Tinggal Clara sendirian di ruangan hitam."

Nino terdiam sejenak. Ia menatap adiknya yang tampak begitu konyol dan menyedihkan di saat yang sama. Ketakutan akan ‘hari kiamat’ yang sempat tertutup oleh kehangatan Bima dan Sarah belakangan ini, rupanya tidak lantas menghapus ketakutan di benak Clara.

Nino memutar matanya, menghembuskan napas keras melalui hidung. Mau tidak mau, ia harus membantu menetralkan situasi ini. Jika ia membiarkan Clara makin histeris, Bima dan Sarah pasti akan terbangun dan situasi bakal makin rumit.

"Ck. Berisik," gumam Nino pendek. Ia berbalik, melangkah ke kamarnya sendiri yang bersebelahan, lalu kembali beberapa detik kemudian membawa sesuatu yang selama ini menjadi senjata utamanya. Gitar akustik kayu miliknya.

Lihat selengkapnya