Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #17

Bayangan Kabut

Pagi itu, di meja makan, Sarah meletakkan semangkuk sup ayam hangat di tengah meja menyunggingkan senyum terbaiknya. "Diicipi supnya, ya. Mumpung masih panas."

Bima mengangguk pelan, meraih sendok. "Terima kasih, Sarah."

Interaksi Bima dan Sarah memang jauh lebih melunak, tetapi hubungan anak dan orang tua masih memiliki ganjalan. Nino duduk bersandar dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket hoodie-nya. Meski ia tidak lagi melontarkan kata 'lu-gue' setelah teguran Bima kemarin, tatapan matanya masih menyiratkan jarak yang sangat jauh. Meskipun demikian, rasa hormatnya kepada Sarah sedikit tumbuh akibat memori yang muncul tempo hari. Namun, tidak ada yang mengetahuinya karena ia tidak menceritakan kepada siapapun terkait ingatannya itu.

"Nino, dimakan supnya," tegur Bima lembut, berusaha membuka percakapan. "Kamu ada latihan gitar hari ini?"

Nino menatap mangkuk sup itu sejenak, lalu melirik Bima. "Nggak ada, Pa. Lagi ... malas."

Kata 'Pa' meluncur kaku dari mulut Nino, terdengar asing dan tersendat. Ada jeda hening yang merayap cepat. Bima mencoba mencari topik lain, tetapi yang muncul justru pertanyaan konyol nan canggung. "Mungkin ... Papa bisa mengantarmu kalau mau beli senar baru?"

"Nggak usah, Pa. Senar yang ada masih bisa dipakai," jawab Nino datar. Ia mengambil sendok, mengaduk supnya tanpa minat, lalu menyuapkannya pelan.

Di sebelahnya, Clara hanya diam menunduk, memainkan ujung pita bajunya. Meskipun Nino telah memeluknya erat malam itu, kecanggungan terhadap Bima dan Sarah tetap ada. Ketika Bima mencoba mengusap kepala Clara, anak perempuan itu refleks sedikit menarik kepalanya ke belakang. Sebuah gestur spontan yang langsung membuat Bima menarik kembali tangannya.

Satu pecahan memori ternyata tidak otomatis menghapus rasa asing yang mengendap selama dua minggu terakhir. Percikan memori itu terlalu sedikit, bagai lilin kecil di tengah ruang raksasa yang gelap gulita. Mereka tahu secara logis bahwa mereka adalah sebuah keluarga, tetapi tubuh dan emosi mereka belum sepenuhnya saling mengenali.

Bahkan, ketika Bima mencoba mengulang momen sederhana seperti sengaja menyeduh teh melati—minuman favorit Sarah yang tertulis di catatan wawancaranya—tidak ada sentakan memori baru yang muncul. Yang ada hanyalah rasa getir di lidah dan kesunyian yang makin menekankan kegagalan mereka untuk menggali masa lalu secara paksa. 

Melihat keputusasaan yang mulai menggerogoti wajah Bima dan aura tertekan dari anak-anaknya, Sarah menolak untuk menyerah.

"Kita butuh suasana baru," ucap Sarah tiba-tiba, memecah keheningan meja makan.

Lihat selengkapnya