Pagi di kawasan Puncak disambut oleh kabut tebal yang masih enggan beranjak dari sela-sela daun pinus. Udara dingin yang menggigit tak mampu mendinginkan gejolak di dalam kepala Bima. Penglihatan semalam bukan sekadar halusinasi dari pikirannya yang lelah. Sisi rasional di dalam diri Bima menolak percaya pada kebetulan seseram itu. Mustahil seseorang muncul di tiga tempat berbeda secara acak tanpa ada benang merah yang mengikatnya. Hanya ada satu penjelasan yang masuk akal bagi logika Bima. Perempuan itu memang sengaja mengikuti mereka! Atau lebih buruk lagi, perempuan itu sedang mengawasi setiap gerak-gerik keluarga Wijaya dari jarak aman.
Saat sarapan pagi di meja kayu vila, Bima tampak terdistraksi. Ia hanya memutar-mutar sendok di dalam cangkir teh hangatnya, matanya terus melirik ke arah pintu kaca teras belakang.
"Mas Bima? Kok melamun terus dari tadi?" tanya Sarah, meletakkan piring berisi roti bakar di hadapan suaminya. Tatapan Sarah tajam, menyadari perubahan sikap Bima yang mendadak kembali tegang setelah kehangatan malam kemarin.
Bima tersentak pelan, memaksakan sebuah senyuman tipis yang agak kaku. "Ah, tidak apa-apa, Sarah. Hanya memikirkan beberapa urusan pekerjaan yang belum selesai."
"Pekerjaan lagi?" gumam Nino dari ujung meja, menatap ayahnya dengan sebelah alis terangkat. "Katanya liburan lepas dari kantor?"
"Hanya pikiran sekilas, Nino," sahut Bima cepat, merapikan kerah jaketnya. Ia lalu berdiri dari kursi. "Sarah, Papa ... maksud saya, saya mau keluar sebentar. Mau jalan kaki ke area pusat kuliner dan pasar tradisional di bawah. Udara pagi Puncak bagus untuk paru-paru. Kalian di vila saja dulu, istirahat."
Sarah menatap Bima curiga. "Perlu diantar? Aku bisa minta Nino menemani."
"Tidak perlu," tolak Bima tegas, mungkin terlalu cepat. "Kalian bersantai saja di sini bersama Clara. Saya tidak akan lama."
Tanpa menunggu argumentasi lebih lanjut, Bima menyambar ponselnya dari atas meja, lalu melangkah keluar melewati pintu depan. Sarah berdiri mematung di dekat meja makan, menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu dengan rahang mengeras. Rasa percaya yang baru saja mereka pupuk semalam, mendadak digelayuti oleh bayang-bayang keraguan yang lama.
Bima melangkah menyusuri jalanan beraspal sempit yang membelah kebun teh dan deretan vila. Tujuannya adalah sebuah pusat kuliner dan area komersial kecil yang berisi kedai kopi lokal, penjual oleh-oleh, dan toko-toko suvenir.