Sekembali dari Puncak, udara di dalam rumah berlantai dua itu tak lagi terasa sekeruh hari-hari awal. Malam itu, pukul sebelas lewat sedikit. Lampu utama ruang tengah sudah dimatikan, menyisakan pendar lampu dinding berwarna kuning hangat.
Sarah tertidur di sofa panjang. Tubuhnya miring menghadap sandaran sofa, masih mengenakan piyama kainnya. Di meja kecil tepat di bawah jangkauan tangannya, layar ponsel pintarnya berkedip-kedip tipis. Menampilkan ikon baterai berwarna merah yang hampir habis, hanya menyisa satu persen sebelum benar-benar mati.
Bima, yang baru saja turun dari lantai atas membawa gelas kosong, menghentikan langkahnya di undakan tangga terakhir. Pandangannya jatuh pada tubuh Sarah yang tertidur lelap dengan napas yang teratur, lalu beralih pada layar ponsel yang sekali lagi menampilkan peringatan baterai habis.
Bima berdiri mematung selama beberapa detik. Ada sesuatu yang secara otomatis seperti menggerakkan dirinya. Dengan gerakan lambat dan sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan derit lantai, Bima berlutut di samping meja kecil. Ia merogoh kabel pengisi daya dari dalam laci meja konsol, mengulurnya pelan, lalu menancapkan ujungnya ke soket ponsel Sarah.
Layar ponsel itu menyala sejenak, menampilkan grafik baterai yang mulai terisi daya, sebelum kembali gelap. Bima menatap wajah Sarah yang tenang dalam lelapnya dari jarak dekat. Kerutan lelah di dahi istrinya tampak melunak. Tangan Bima terangkat sedikit, berniat mengusap helai rambut yang menutupi pipi Sarah, tetapi jemarinya berhenti menggantung di udara. Pria itu menarik tangannya kembali, berdiri kaku, lalu berbalik menuju dapur dalam keheningan.
Keesokan harinya, pukul enam pagi.
Aroma embun pagi masih bertengger di kaca jendela dapur. Sarah terbangun dengan leher yang agak kaku. Hal pertama yang diingatnya adalah semalam dia sedang mencari resep kue yang ingin dicobanya sebelum jatuh tertidur. Ia refleks mengulurkan tangan ke atas meja kecil, bersiap mendapati gawainya sudah mati total.
Akan tetapi, jemarinya justru menyentuh kabel hitam yang tertancap rapi di bagian bawah ponselnya. Layar gawai itu menyala saat disentuh—100% Terisi Daya.
Sarah tertegun. Matanya menatap kabel itu lama. Di sudut dapur, Bima sedang berdiri membelakangi meja makan, mengancingkan manset kemeja kerjanya. Sendok di dalam cangkir kopinya berdenting pelan saat ia mengaduknya.
Sarah melangkah mendekat ke arah dapur, menggenggam ponselnya. "Mas?"
Bima menoleh perlahan, memasang wajah datarnya yang biasa. "Ya?"