Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #20

Mencari Jawaban

Matahari sore merambat turun, membiaskan cahaya jingga kusam melalui celah ventilasi di lantai dua. Suasana koridor atas terasa lengang dan serba canggung. Nino duduk bersila di karpet kamar dengan posisi membelakangi pintu. Gitar akustiknya berada di pangkuan. Jemarinya sesekali bergerak memetik senar, memicu bunyi yang terputus-putus dan janggal. Ia berniat menyumpal telinganya dengan earbuds dan mengunci diri rapat-rapat seperti biasa. Namun, saat kakinya melangkah mendekati pintu kamar untuk menutupnya, tangannya mendadak ragu di atas engsel kayu.

Nino menggerutu pelan, meremas tengkuknya yang terasa kaku. Dengan gerakan enggan dan terkesan asal-asalan, ia akhirnya membiarkan pintu kamarnya tetap terbuka lebar sekitar lima sentimeter. Cukup untuk menyisakan celah udara dan suara.

Di kamar sebelah, Clara sedang tengkurap di karpet kamarnya. Anak perempuan itu memegang satu batang krayon biru, mencoret-coret kertas bergambar rumah dengan gerakan pelan. Telinganya menangkap setiap petikan gitar sumbang dari kamar Nino. Clara tidak memberanikan diri melangkah menyeberangi koridor atau memanggil nama kakaknya. Ada jarak tak terlihat yang membuat kakinya terasa berat, tetapi mendengar nada dari kamar sebelah membuat bahunya yang semula tegang perlahan-lahan rileks.

Nino menghentikan petikan jarinya saat senar G terdengar terlalu fals. Ia mendesah kasar, menyandarkan gitarnya di tepi ranjang. Rasa haus dan lapar yang menggerogoti perutnya menjadi alasan yang pas untuk menyela kecanggungan itu.

Nino melangkah turun ke lantai bawah dengan pijakan kaki sengaja diberatkan. Dapur dalam keadaan kosong. Sarah tampaknya sedang menyiram tanaman di halaman samping. Nino membuka lemari gantung, menyambar satu kotak biskuit cokelat, lalu mengunyah dua keping secara terburu-buru di depan pintu es.

Saat hendak membawa sisa kemasan itu kembali ke atas, langkah Nino tertahan di anak tangga pertama. Ia menatap sisa dua keping biskuit yang mendekam di dasar wadah plastik tersebut.

Nino berjalan kembali ke lantai atas, melintasi koridor dengan langkah santai yang dibuat-buat. Ia menghentikan langkah di depan pintu kamar Clara yang sedikit terbuka, lalu mendorongnya menggunakan ujung kakinya.

Kriiet ...

Clara tersentak, mendongak kaget dari kertas gambarnya.

Nino tidak masuk ke dalam kamar. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahunya di kusen kayu dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Dengan gerakan kaku dan ekspresi datar tanpa senyum, Nino mengulurkan tangan kirinya, meletakkan wadah plastik berisi dua keping biskuit cokelat itu di atas meja belajar dekat pintu.

"Nih," gumam Nino kaku. Suaranya serak dan agak datar. "Pajak snack. Jangan dihabisin sambil tiduran, nanti digigit semut."

Clara mematung sejenak, menatap wadah biskuit di atas mejanya, lalu beralih menatap wajah Nino. Ada jeda ragu sebelum bibir anak perempuan itu menyunggingkan senyum tipis yang amat canggung. "Makasih ... Kak Nino."

Nino tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata manis. Ia hanya mendengus pendek, mengacak rambut belakangnya dengan canggung, lalu berbalik cepat menuju kamarnya sendiri sebelum Clara sempat melihat rona merah tipis akibat gengsi di pipinya.

Pukul delapan malam, Bima sudah pulang dari kantor. Jas kerjanya tergantung rapi pada tiang gantungan di dekat undakan tangga bawah. Keempatnya kini berada di ruangan yang sama, mencoba beroperasi sebagai sebuah keluarga. Namun, tidak ada percakapan hangat yang mengalir bebas.

Bima duduk kaku di sofa tunggal, kacamata bacanya bertengger di pangkal hidung seraya matanya memindai lembaran laporan keuangan cetak. Sarah duduk di sofa panjang berseberangan, membaca majalah mode. Di karpet bawah, Nino bersandar pada kaki sofa sambil menggulirkan layar ponselnya tanpa suara, sementara Clara di sampingnya sedang menikmati biskuit yang dicelupkan ke susu.

Lihat selengkapnya