Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #21

Badai dan Ledakan

"Sarah ..." suara Bima tercekat di tenggorokan. Air yang menetes dari ujung rambutnya terasa mengering seketika oleh hawa dingin yang mendadak menyergap ruangan.

"Siapa dia, Mas?"

Suara Sarah meluncur pelan, tetapi nadanya begitu dalam dan tajam. Ia tidak meletakkan nampan kopi itu. Ia mencengkeramnya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Sarah, dengarkan saya dulu." Bima melangkah mendekat, tangannya terangkat defensif. "Foto itu ... saya bisa jelaskan—"

PRANG!

Nampan kayu itu dihempaskan Sarah ke atas meja kerja. Cangkir keramik itu terguling, mencurahkan kopi hitam panas yang meluas dengan cepat di atas papan kayu, menetes membasahi lantai. Bima tersentak mundur.

"Menjelaskan apa?!" jerit Sarah. Suaranya pecah, melengking tinggi menembus keheningan malam. Seluruh benteng kesabaran dan kehangatan yang ia bangun selama beberapa hari terakhir runtuh tanpa sisa.

"Mau menjelaskan kalau kamu diam-diam menguntit dia sampai ke Puncak?! Mau menjelaskan kalau selama ini kamu pura-pura hilang ingatan cuma buat menutupi busuknya kelakuanmu di belakang kami?!"

"Bukan begitu, Sarah! Demi Tuhan, saya tidak—"

"LALU APA?!" Sarah memotong, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersekat oleh meja kerja yang tersiram kopi. Matanya memerah, berkaca-kaca oleh amarah dan rasa sakit yang membakar. "Kamu pikir aku buta, Mas? Kamu pikir aku tidak tahu kalau di taman itu kamu juga membuntuti dia? Kamu pikir aku tidak tahu kamu menyimpan buku agenda biru bertuliskan ‘Slot R’?!"

Bima mematung. Dadanya bergemuruh hebat. Nama itu menyengat kepalanya. "Slot R?" gumam Bima linglung. "Ap... apa itu ‘Slot R’, Sarah? Saya tidak mengerti—"

Lihat selengkapnya