Enam Bulan Lalu.
Bima duduk membelakangi jendela besar, membolak-balik lembaran laporan keuangan perusahaan dengan kacamata baca di pangkal hidung. Di seberang meja, Sarah memotong buah apel dengan gerakan yang kaku. Tidak ada suara selain denting pisau yang membentur piring kaca dan gesekan kertas.
"Aku sudah bicara dengan pengacara," ucap Sarah datar, tanpa menghentikan gerak pisau pada buah di tangannya.
Bima tidak mendongak. Tangannya hanya berhenti membalik halaman selama satu detik. "Pengacara siapa?"
"Pengacara keluarga. Pak Danuatmodjo," jawab Sarah dingin. "Kita tidak bisa melanjutkan ini, Mas. Rumah ini sudah mati. Kamu hidup untuk pekerjaanmu, dan aku hidup seperti pajangan dinding yang cuma bertugas memastikan kemejamu rapi saat kamu pergi."
Bima perlahan melepaskan kacamata bacanya, meletakkannya di atas meja, lalu menatap istrinya dengan rahang mengeras. "Perceraian? Setelah delapan belas tahun, solusi satu-satunya di kepalamu adalah perceraian, Sarah?"
"Lalu apa?" Suara Sarah meninggi, matanya yang lelah menatap Bima penuh keputusasaan. "Kamu mau kita berpura-pura saling mencintai di depan relasi bisnismu? Berpura-pura jadi pasangan ideal di acara gala jamuan kantor setiap akhir bulan? Aku lelah, Mas. Kita cuma dua orang asing yang kebetulan tidur di ranjang yang sama."
"Pikirkan dampaknya!" Bima menepuk meja kayu itu dengan telapak tangannya—tidak keras, tetapi sarat akan penolakan. "Kamu tahu betapa ketatnya standar keluarga besar kita. Aku tidak akan membiarkan nama keluarga kita jadi bahan gunjingan."
Sarah tertawa sumbang, sebuah tawa penuh kepahitan. "Gengsi. Selalu gengsi dan citra yang kamu pikirkan. Bukan pernikahan kita."