Sabtu pagi di sesi kedua konseling.
Ruang praktik Dr. Ellen Kusuma terasa terlampau tenang untuk dua kepala yang sedang bergemuruh hebat. Bima menggeser duduknya di sofa kulit cokelat, merapikan manset kemeja dengan gerakan kaku, lalu melirik jam tangannya.
Di sebelahnya, Sarah duduk merapat ke sandaran sofa, memeluk sebuah bantal kecil dengan jemari yang saling mencengkeram erat. Jarak antara Bima dan Sarah di sofa panjang itu lebih lebar dibanding pertemuan sebelumnya. Dr. Ellen di seberang mereka, menyiapkan sabak digitalnya, lalu menatap mereka berdua secara bergantian dari balik kacamata berbingkai tipisnya.
"Bagaimana dengan tugas latihan komunikasi yang saya berikan minggu lalu?" tanya Dr. Ellen. "Dua belas menit setiap malam tanpa gawai, tanpa membahas urusan rumah tangga, dan tanpa perdebatan? Apakah kalian sempat menjalankannya?"
Sarah menghembuskan napas pendek. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang getir. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menoleh pada Bima dengan tatapan yang menyiratkan cemoohan.
"Silakan, Mas," cetus Sarah dingin. "Kamu yang paling pandai membuat laporan. Coba ceritakan ke Dr. Ellen bagaimana suksesnya latihan kita."
Bima berdeham keras, menetralkan raut wajahnya agar tetap terlihat terkendali. "Kami mencobanya, Dok. Tapi situasinya kurang kondusif. Pekerjaan di kantor belakangan ini sedang beruntun, dan sewaktu saya mencoba meluangkan waktu—"
"Dua menit, Mas," potong Sarah, suaranya naik satu oktaf. Ia memutar tubuhnya menghadap Bima, mengabaikan keberadaan Dr. Ellen di depan mereka. "Dua menit dari dua belas menit yang diminta Dr. Ellen! Dan di menit kedua, apa yang kamu bicarakan? Kamu malah mengkritik caraku menyusun piring di dapur, lalu mengeluh kalau rumah terlalu bising!"
"Saya tidak mengkritik, Sarah," tegas Bima, rahangnya mengeras saat suaranya ikut meninggi. "Saya hanya menyampaikan bahwasanya kalau kamu butuh ketenangan, kamu tidak perlu membanting pintu lemari dapur seperti itu. Saya baru pulang dari rapat investor dengan kepala yang mau pecah!"
"Aku tidak membanting pintu!" jerit Sarah. Air mata kemarahan yang dipendamnya sejak beberapa hari lalu mendadak membasahi pipinya. "Pintu itu memang agak longgar engselnya! Tapi karena kamu tidak pernah peduli dengan kondisi rumah, kamu cuma bisa menyalahkan aku! Kamu tidak pernah mau mendengarkan apa yang aku rasakan, Mas! Bagi kamu, dua belas menit itu cuma buang-buang waktu yang menyita jam kerjamu yang berharga!"