Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #25

Suara yang Terbungkam

Sabtu pagi di sesi ketiga.

Udara di koridor Klinik Menteng terasa sejuk dan hening. Bima dan Sarah duduk bertolak belakang di ruang tunggu privat, terpisah oleh satu meja kayu panjang yang dipenuhi majalah kedokteran yang tak tersentuh.

Di dalam ruang praktik Dr. Ellen yang tertutup rapat, suasana terasa jauh lebih tenang. Dr. Ellen Kusuma sengaja melepaskan jas dokternya, menyisakan blus kemeja pastel yang ramah. Ia duduk di kursi bundar tanpa roda, sejajar dengan sofa empuk tempat Nino duduk.

Nino duduk bersandar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket hoodie hitamnya. Kakinya melunjur kaku, sementara matanya menatap lurus ke arah tanaman monstera di sudut ruangan, menolak bertatap mata dengan Dr. Ellen.

Dr. Ellen tidak memaksakan kontak mata. Ia hanya menuangkan segelas air putih hangat dan meletakkannya di dekat Nino.

"Terima kasih sudah mau datang pagi ini, Nino," ucap Dr. Ellen dengan nada suara yang hangat, lembut, dan sama sekali tidak menghakimi. "Saya tahu, Sabtu pagi biasanya kamu pakai untuk istirahat atau latihan musik."

Nino hanya mendengus pelan. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Papa lebih suka saya di sini daripada latihan gitar. Masih mending gitar saya tidak disita."

Dr. Ellen mengangguk pelan dengan raut empati yang tulus. "Papa sangat ketat soal aturan, ya?"

"Bukan ketat lagi, Dok," sahut Nino, suaranya mendadak dalam dan penuh kejengkelan yang dipendam lama. Ia memajukan badannya, menumpukan siku di atas lutut. "Papa itu terobsesi. Semua harus sesuai skenario di kepalanya. Saya suka musik, saya mau ikutan band sekolah, tapi Papa bilang itu buang-buang waktu. Katanya bikin nilai merosot, bikin malu keluarga. Semua-semua harus tentang reputasi."

"Pasti rasanya lelah sekali, harus selalu memenuhi ekspektasi yang begitu tinggi," ucap Dr. Ellen halus, memberikan jeda agar Nino bisa bernapas. "Bagaimana dengan kondisi di rumah belakangan ini, Nino? Apakah ada hal yang membuatmu merasa tidak nyaman?"

Nino tertawa sumbang, sebuah tawa getir yang terlalu dewasa untuk usianya. "Rumah? Rumah itu cuma sisa bangunannya aja, Dok. Papa sama Mama udah kayak orang asing yang kebetulan nyewa rumah yang sama. Mereka nggak pernah teriak-teriak lagi sih kalau ada saya sama Clara, tapi keheningannya itu justru bikin muak."

Nino meremas jemarinya di dalam saku jaket.

"Kalau boleh jujur, Dok, kalau mereka memang mau cerai, cerai aja sekalian. Nggak usah pura-pura konseling begini," lanjut Nino dingin. "Toh selama ini rasanya sama saja seperti sudah tidak punya orang tua yang utuh."

Dr. Ellen mencatat kalimat itu di buku agendanya. Ia tidak memotong atau menyanggah, melainkan membiarkan Nino meluapkan seluruh beban di dadanya selama tiga puluh menit penuh.

Sesi selanjutnya diperuntukkan bagi Clara.

Lihat selengkapnya