Lantai tiga puluh enam gedung perkantoran di kawasan Sudirman pagi itu terasa bising oleh deru pendingin udara dan langkah-langkah tergesa para eksekutif. Namun, bagi Bima, koridor berlantai marmer itu terasa tak ubahnya lorong pengadilan yang siap menghakiminya.
Bima melangkah menuju ruang kerjanya dengan tas kulit di tangan kanan. Kepalanya berdenyut nyeri, sisa dari keputusan getir yang ia dan Sarah ambil di ruang praktik Dr. Ellen dua hari yang lalu.
Saat melewati area lounge direksi, langkah Bima terhenti oleh gelak tawa tipis dan bisik-bisik dari tiga rekan sejawatnya yang sedang berdiri memegang cangkir kopi.
"Kalian sudah dengar berita soal Hendra?" bisik Farhan, salah satu Managing Director, sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Resmi ketok palu minggu lalu. Istrinya menuntut setengah aset, dan yang paling parah ... bocor ke jajaran komisaris."
"Coba bayangkan," timpal kolega lainnya dengan nada mencemooh yang dingin. "Kinerjanya di divisi investasi langsung dipertanyakan. Orang yang tidak bisa memimpin dan menjaga keutuhan rumah tangganya sendiri, bagaimana bisa dipercaya memegang portofolio triliunan? Prestige-nya hancur total di mata investor. Sekarang posisinya sedang diujung tanduk."
"Sayang sekali. Padahal kariernya bersinar. Tapi ya begitu, sekali kena skandal perceraian, label 'gagal' itu bakal nempel seumur hidup."
Setiap kata yang meluncur dari mulut rekan-rekannya menghantam dada Bima bagai pukulan telak. Udara di sekitarnya mendadak terasa menyempit dan menyengat. Bima berjalan cepat menuju ruang kerjanya, menutup pintu tebal itu rapat-rapat, lalu bersandar pada daun pintu dengan napas memburu. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
Kenyataan pahit itu menghantam egonya tanpa ampun. Selama belasan tahun, Bima membangun citra sebagai eksekutif papan atas yang sempurna. Seorang pria sukses dengan keluarga harmonis yang menjadi kepercayaan para relasi bisnisnya. Bayangan bahwa namanya akan menjadi bahan gunjingan di lorong kantor ini, bayangan bahwa reputasi profesionalnya akan hancur lebur jika berita perceraiannya dengan Sarah tersebar, membuat nyalinya ciut seketika.
Ia tidak bisa membiarkan perceraian ini terjadi. Tidak sekarang. Tidak dengan cara yang merendahkan seperti ini.
Dengan tangan yang gemetar oleh dorongan gengsi dan ketakutan yang bercampur aduk, Bima merogoh ponselnya. Tanpa memberi tahu Sarah, ia menelepon nomor pribadi Dr. Ellen Kusuma.
Sore harinya, Bima kembali berdiri di ruang praktik Klinik Menteng. Kali ini ia datang seorang diri, tanpa kehadiran Sarah atau anak-anaknya.
Dr. Ellen duduk di balik meja kerja, menatap Bima yang tampak berantakan. Dasi yang sudah dilonggarkan dan mata yang memerah akibat tekanan emosional yang hebat.