Setelah keluar dari klinik Dr. Ellen dengan berkas ‘Slot R’ yang tersembunyi di dalam tas kerjanya, Bima langsung pulang ke rumah. Kepalanya terasa berat, dipenuhi oleh gambaran risiko yang teramat gila sekaligus harapan tipis untuk menyelamatkan apa yang tersisa dari kehidupannya.
Ia memarkir mobilnya di bahu jalan tak jauh dari rumah, menggenggam kemudi erat-erat. Menyampaikan ide gila ini kepada Sarah tidak akan mudah. Wanita itu sudah berada di puncak keputusasaan dan membawa proposal eksperimen medis bernilai ratusan juta ini bisa saja dianggap Sarah sebagai bentuk manipulasi baru. Namun, Bima tahu tidak ada pilihan lain.
Ketika Bima melangkah masuk ke dalam rumah, suasana terasa sepi dan menekan. Nino dan Clara berada di kamar masing-masing. Di ruang keluarga, Sarah sedang memasukkan beberapa berkas pribadi ke dalam map, persiapan awal yang dingin untuk proses perceraian mereka.
Bima melangkah mendekat, lalu meletakkan berkas abu-abu bersampul ‘Slot R’ di atas meja kaca, tepat di samping map milik Sarah.
Sarah mendongak, menatap Bima dengan raut wajah lelah dan pandangan bertanya. "Apa lagi ini, Mas? Bukankah kita sudah selesai kemarin?"
Bima duduk di hadapan Sarah, menghembuskan napas panjang untuk menetralkan gemetar di suaranya. "Aku baru saja kembali dari tempat Dr. Ellen, Sarah. Sendirian."
Alis Sarah bertaut, matanya mendadak memancarkan kejengkelan yang familier. "Untuk apa? Kita sudah sepakat untuk menghentikan konseling. Kenapa kamu masih menemui dia tanpa memberi tahu aku?"
"Karena aku tidak mau kita bercerai!" tegas Bima, suaranya merendah. "Aku tahu kamu lelah, Sarah. Aku juga lelah. Tapi tadi pagi di kantor, aku melihat betapa hancurnya kehidupan orang-orang yang mengambil jalan perceraian. Anak-anak yang kehilangan pegangan, keluarga yang hancur, dan stigma yang akan terus menempel pada kita. Apakah kamu benar-benar tega membiarkan Nino dan Clara tumbuh dalam bayang-bayang label keluarga ganjil?"
Sarah mendengus getir, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Jadi ini semua cuma soal gengsi kamu lagi, Mas? Soal apa kata orang di kantor kamu?"
"Ini soal kita dan anak-anak!" potong Bima cepat, memajukan tubuhnya. "Dr. Ellen menawarkan satu opsi terakhir. Bukan konseling biasa yang selalu berujung perdebatan buntu seperti selama ini. Ini adalah intervensi medis khusus. Protokol ‘Slot R’."
Sarah menatap berkas abu-abu itu dengan keraguan mendalam. "Protokol apa? Jangan aneh-aneh, Mas."
"Ini prosedur pemblokiran memori sementara." Bima menjelaskan dengan kalimat yang dihafalkannya dari Dr. Ellen. "Selama tiga puluh hari, memori kita tentang semua konflik, sakit hati, dan trauma masa lalu akan dikunci. Kita tidak akan ingat mengapa kita saling membenci. Kita akan tinggal di rumah ini, dipaksa berinteraksi dari nol tanpa dibayangi oleh prasangka masa lalu."
Sarah menatap Bima seolah pria di hadapannya telah kehilangan akal sehatnya. "Kamu gila? Menghapus ingatan? Memangnya otak kita ini komputer yang bisa di-reset sesuka hati? Aku tidak mau jadi bahan percobaan medis!"
"Bukan dihapus total, Sarah! Cuma dikunci sementara selama satu bulan," sanggah Bima memohon, sesuatu yang sangat jarang dilakukannya di hadapan sang istri. "Pikirkan Nino dan Clara. Kalau dalam tiga puluh hari tanpa memori racun itu kita tetap tidak bisa saling menyayangi, aku berjanji, aku sendiri yang akan menandatangani surat cerai itu tanpa menuntut apa pun. Tapi berikan kita satu kesempatan terakhir ini. Tolong ..."
Sarah terpaku. Tatapan mata Bima yang sarat akan keputusasaan dan kejujuran berhasil meruntuhkan tembok pertahanannya. Selama belasan tahun menikah, ia belum pernah melihat Bima memohon seperti ini. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Sarah juga merindukan kedamaian. Ia rindu pada sosok Bima yang dulu mencintainya sebelum tertutup oleh tumpukan luka dan gengsi.
Setelah keheningan yang menyiksa selama beberapa menit, Sarah menarik berkas abu-abu itu, membukanya perlahan, dan membaca lembar persetujuan medis di dalamnya.