Masa Kini.
Setelah mendengar seluruh penjelasan panjang dan jujur dari Dr. Ellen mengenai kilasan memori, prosedur ‘Slot R’, serta rentetan peristiwa yang sebenarnya telah terjadi, kesadaran Bima dan Sarah telah sepenuhnya berpijak di ruang tamu rumah mereka. Kondisi mereka yang berdiri kaku di hadapan Dr. Ellen perlahan berangsur tenang, meski sisa-sisa gejolak emosi dari ingatan masa lalu yang baru saja meluncur deras masih menyelimuti mereka.
Seluruh kilasan memori—mulai dari pertengkaran hebat di ruang konseling, tangisan anak-anak, bisik-bisik kehancuran di kantor Bima, transaksi rahasia tiga ratus juta rupiah di garasi bawah tanah, hingga induksi hipnosis—telah kembali secara utuh ke dalam kesadaran Bima dan Sarah.
Keheningan yang mencekam menghantam ruang tengah itu. Bima menatap Sarah dengan mata berkaca-kaca, dadanya naik turun oleh gejolak emosi yang tak tertahankan. Di sebelahnya, Sarah berdiri kaku, jemarinya gemetar saat realitas baru ini menembus benteng pikiran yang selama ini terkunci.
Di sudut ruangan dekat pintu utama, Dr. Ellen Kusuma melepaskan kacamata tipisnya, menyapu pandangan ke arah Bima, Sarah, Nino, dan Clara dengan binar mata yang hangat dan lega.
"Prosedur ‘Slot R’ secara resmi berakhir pada detik ini," suara Dr. Ellen mengalun lembut, memecah keheningan yang serasa membeku.
Nino dan Clara saling pandang dengan dahi berkerut, belum sepenuhnya memahami runtutan peristiwa ilmiah yang baru saja terjadi pada mereka. Namun, perubahan aura di antara Bima dan Sarah terlalu nyata untuk diabaikan.
Dr. Ellen berjalan perlahan mendekati Sarah, yang kini tertunduk dengan isak napas yang mulai pecah.
"Nyonya Sarah ..." panggil Dr. Ellen halus. "Selama tiga puluh hari terakhir, ketika Anda tidak mengingat luka masa lalu, apa yang Anda rasakan saat melihat Bima? Terutama akhir-akhir ini."
Sarah mengusap air matanya yang menetes ke pipi, suaranya parau dan terputus-putus. "Saya … saya takut dia kenapa-napa, Dok. Saya marah setiap kali membayangkan ada wanita lain atau hal asing yang mengganggu dia. Saya curiga, saya cemburu. Saya merasa ketakutan setengah mati kalau dia pergi dari hidup saya."
Dr. Ellen tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh empati profesional.
"Itu jawaban yang kita cari selama lima bulan konseling buntu ini, Nyonya Sarah," tegas Dr. Ellen dengan nada menenangkan. "Rasa cemburu, amarah, dan kecurigaan yang Anda rasakan selama ini bukanlah tanda bahwa Anda membenci Bima. Itu bukan cemburu buta atau obsesi toksik. Itu adalah cinta."