Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #29

Kami Menjadi Keluarga

Sinar matahari terbit menyusup perlahan melalui sela-sela tirai ruang tengah. Bima terbangun di sofa ruang tengah, merasakan sensasi ganjil di kepalanya. Ingatan masa lalu itu ada di sana. Memori tentang belasan tahun pernikahan, pertengkaran dingin di meja makan, kemeja yang dilempar tanpa sapaan, hingga malam-malam penuh amarah saat sesi konseling yang buntu. Luka-luka itu tidak hilang. Rasa sakit dari kata-kata yang pernah terucap di masa lalu tetap tercatat dalam ingatan Bima dan Sarah.

Akan tetapi, ada perbedaan yang teramat besar.

Luka masa lalu itu kini tidak lagi berdiri sendirian. Di atas tumpukan memori pahit itu, telah terlapisi oleh ingatan tiga puluh hari terakhir. Hangatnya cangkir teh yang diseduh tanpa diminta, ponsel yang terisi penuh saat tertidur, gitar yang kembali dipetik di balik pintu kamar yang terbuka, dan kesadaran bahwa di ujung keputusasaan sekalipun, mereka memilih untuk tidak saling meninggalkan.

Sarah melangkah turun dari lantai dua dengan gaun rumah sederhananya. Wajahnya pucat oleh lelah, tetapi matanya memancarkan kedamaian yang tak pernah Bima lihat selama bertahun-tahun.

Mereka berdua bertemu pandang di tengah ruangan. Tidak ada lagi benteng ego, tidak ada lagi kecurigaan yang membakar, dan tidak ada lagi kata-kata tajam yang disiapkan sebagai pertahanan diri.

"Mas ..." panggil Sarah pelan.

Bima tersenyum tipis. Sebuah senyuman tulus yang terasa begitu asing sekaligus dirindukan. "Selamat pagi, Sarah."

Di meja makan yang kini riuh oleh aroma sup iga hangat, Bima duduk berhadapan dengan Nino. Di samping mereka, Clara sedang sibuk mengoleskan mentega pada rotinya dengan wajah ceria.

Bima meletakkan sendoknya, menatap putra sulungnya yang masih mengenakan hoodie hitam. Pria itu menghela napas panjang, meruntuhkan sisa-sisa keangkuhan seorang kepala keluarga yang selama ini menjadi ciri khasnya.

"Nino," panggil Bima.

Nino mendongak dari piringnya, menatap papanya dengan pandangan hati-hati.

Lihat selengkapnya