Blurb
"Dalam setiap pelajaran memasak, selalu ada tangan yang siap terluka dan lidah yang siap kecewa." Itulah yang dikatakan Ibu Lea ketika Lea mulai memasuki masa remaja dan semakin sering menginjakkan kaki di dapur.
Tapi Lea tak pernah menyangka bahwa dapur itu akan menjadi sumber lukanya dan menjadi tempat yang paling ia hindari di kemudian hari.
Lea berhenti memasak selama lima tahun lamanya sejak kedua orang tuanya meninggal. Setelah itu ia hanya makan sandwich dan sayuran—hidangan tanpa proses, tanpa kenangan, dan tidak pernah mau duduk di meja makan karena takut kesedihan menyelimuti hidupnya lagi.
Semua berubah ketika ia tiba-tiba menemukan sebuah iklan aneh dari seseorang yang mencari jasa orang untuk memasak di dapur rumahnya.
Sejak itu, dari satu rumah ke rumah lain, Lea perlahan membangun kembali hubungannya dengan dapur, menghadapi kehilangan, dan upaya memulihkan dirinya sendiri.