Hari yang Indah untuk Makan Bersama

Widya Ma
Chapter #1

Sandwich dan Kesepian

“Dalam setiap pelajaran memasak, selalu ada tangan yang siap terluka dan lidah yang siap kecewa.” Itulah yang dikatakan Ibu Lea ketika Lea mulai memasuki masa remaja dan semakin sering menginjakkan kaki di dapur.

Lea memang beberapa kali berinisiatif ingin belajar masak dari ibunya. Mengetahui hal itu, Ibunya menyambut dengan baik. Ia dengan sabar membimbing putrinya itu belajar memotong sayuran atau daging meski jemarinya masih terlalu kaku untuk menggenggam gagang pisau dengan benar, mengenalkannya pada berbagai jenis rempah dan bumbu, lalu mulai mengajari Lea menumis, menggoreng, hingga cara memasak menu-menu yang lebih rumit.

Dapur mereka tidak besar, tapi selalu terasa seperti ruang yang sedang bernapas setiap kali makanan disiapkan. Ayah Lea biasanya duduk di ruang tengah, menunggu waktu makan malam sambil membaca koran atau menonton TV. Sesekali ia menengok ke dapur, mengamati Lea yang sedang mengaduk masakan, lalu berkata, “Sudah matang belum?”

“Belum, Ayah..” jawab Lea.

“Cepat, dong. Nanti Ayah keburu kurus.”

Lea dan Ibunya selalu tertawa setiap kali Sang Ayah mengatakan itu atau candaan lainnya. Rasanya, di ruang sederhana itu, dunia sudah terasa cukup.

Setiap kali mereka bertiga duduk mengelilingi meja makan dengan uap dari masakan yang baru matang, Ibu akan berkata, “Coba deh, Yah. Ini buatan Lea.” Ayah Lea pun mencicipi dengan wajah serius sebelum akhirnya mengacungkan jempol. 

Lea belajar bahwa memasak bukan sekadar mengubah bahan mentah menjadi matang. Ada proses menunggu dengan penuh kesabaran, dan ada kesediaan untuk menerima bahwa sesuatu tidak akan langsung menjadi seperti yang diinginkan. Kegagalan-kegagalan kecil menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajarnya, tapi Lea ia juga perlahan mengerti bahwa kesalahan-kesalahan itu tidak selalu menjadi akhir yang tidak bisa diperbaiki. Ada hal-hal yang bisa diperbaiki dengan menambahkan air, ada yang membutuhkan sedikit gula, atau ada juga yang hanya perlu dipanaskan sedikit lebih lama.

Setiap kali Lea melakukan kesalahan, Ibunya yang berdiri di belakangnya hanya tersenyum beberapa saat tanpa langsung mengambil alih. Ia tidak pernah mengambil spatula dari tangan Lea dan melanjutkan dengan kritik, tapi memberitahunya dengan sabar, sambil membiarkan sesuatu terjadi di depan mata Lea untuk memberi ruang agar Lea bisa memahaminya sendiri. 

Begitu pun Ayah Lea. Rasa hidangan yang kurang tidak pernah menjadi masalah besar. Ia tetap makan sampai habis dan tetap memuji Lea dengan celotehan-celotehan khasnya.

Dapur dan meja makan mereka adalah tempat paling ramai sekaligus paling tenang yang pernah Lea kenal. Ia tidak pernah menyangka, bahwa kelak ada masa ketika tempat-tempat itu tidak pernah ia dekati kembali.

*

Lea telah berusia dua puluh empat tahun ketika hidupnya telah berubah total dari yang ia miliki bertahun-tahun lalu.

Sore itu, ia melangkah keluar dari gedung yang selalu menelan jatah waktu manusia dan menukarnya dalam bentuk upah. Tubuhnya memunggungi muka bangunan yang selalu tak siap ditinggalkan itu, lalu berjalan menyusuri trotoar bersama dengan arus manusia yang sama letihnya dengan dirinya. Asap kendaraan bercampur dengan aroma parfum ribuan orang, membentuk satu aroma metropolitan yang akan mengendap di hidungnya hingga beberapa jam kemudian.

Seperti telah dipandu oleh kebiasaan, kaki-kakinya berjalan ke tempat yang sama setiap hari—sebuah taman kecil yang terselip di antara keramaian gedung perkantoran yang saling berlomba menjulang. Taman itu terlihat seperti dipagari gedung-gedung, dikepung dari segala sisi oleh kota yang sebenarnya sudah terlalu tua tapi selalu memaksakan diri untuk terpoles.

Setelah jam kerja melepaskan bebatan kuat pada tubuhnya karena kantornya patuh dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan, hanya taman ini yang menjadi tempatnya menghabiskan waktu. Ia selalu duduk di kursi yang sama, di depan sebuah danau buatan yang airnya keruh kehijauan. Rambutnya yang panjang terurai terlihat berkilauan dengan cahaya yang dikucurkan langit sore, namun wajahnya tak memancarkan kilauan yang sama.

Lihat selengkapnya