Setelah beberapa kali bertukar pesan melalui pesan-pesan pendek, Lea dan pemasang iklan yang bernama Budi itu akhirnya sepakat bertemu hari Sabtu siang. Ia belum meninggalkan pekerjaan utamanya, tapi mengambil langkah kecil ini terasa tidak salah untuk dicoba.
Lea tiba mendekati jam makan siang. Rumah itu berada di sebuah perumahan lama di pinggiran Jakarta. Jalan-jalannya lebar, pohon-pohon peneduh menjulang lebih tinggi, sementara pagar-pagar besi yang seragam mulai kehilangan warna aslinya.
Setelah Lea menekan bel, pintu depan terbuka. Seorang laki-laki berusia sekitar pertengahan empat puluhan berdiri di ambangnya. Wajahnya teduh, dengan sedikit rambut yang mulai memutih di pelipisnya. Laki-laki itu Budi—pemasang iklan yang sudah menunggu kedatangan Lea. Ia mengenakan kaos putih dan dilapisi kemeja lengan panjang berwarna krem yang tidak dikancing. Salah satu kancingnya berbeda dari yang lain, seperti pernah lepas lalu dijahitkan kancing pengganti.
“Lea?” kata Budi.
“Betul, Pak.”
“Silakan masuk.”
Laki-laki itu membuka pintu lebih lebar, mempersilakan Lea masuk sambil sedikit menyingkir dari ambang pintu. “Saya pikir yang datang akan ibu-ibu.”
Lea hanya tersenyum tipis sambil berjalan masuk dengan sopan.
“Ternyata masih muda sekali ya.”
Dari ambang pintu saja, rumah itu sudah memancarkan kesan rumah yang sedang belajar hidup tanpa seseorang. Rumah itu terasa sangat sunyi sehingga membuat langkah kaki terdengar terlalu jelas.
Mereka baru beberapa langkah memasuki ruang tamu ketika pandangan Lea tertahan pada sebuah foto berbingkai kayu. Seorang perempuan sedang tersenyum di dalamnya. Lea berdiri di depan foto itu beberapa detik.
“Itu Esther, istri saya.” kata Budi pelan.
Lea menoleh.
“Dulu dia yang senang masak. Sudah satu tahun dia meninggal.” tambah Budi.
Lea melihat mata Budi yang menunjukkan duka. Rumah itu juga terasa menyebarkan rasa kehilangan yang sama. Mungkin sama seperti apartemen Lea—hanya saja, foto-foto yang masih dipajang ruangan membuat rumah ini seperti masih menunggu seseorang pulang. Berbeda dengan apartemennya yang berusaha keras tidak memajang kenangan apa pun agar kesedihan tidak berani menampakkan diri.
“Ayo. Dapurnya di belakang.” kata Budi lagi. Lea mengangguk kecil, lalu mengikuti Budi tanpa bertanya apa pun.
Saat melewati lorong di dekat ruang tamu, mata Lea menangkap sebuah rak kaca di sudut ruangan. Di dalamnya berjajar beberapa miniatur bangunan—model rumah dengan atap pelana, gedung bertingkat dengan fasad kaca, hingga sebuah kompleks dengan taman di tengahnya. Ada juga sebuah bingkai kecil memajang sertifikat dengan nama Budi Santoso, S.T., tercetak rapi di bagian bawahnya.
“Bapak arsitek?” tanya Lea, sedikit tertegun melihat miniatur-miniatur itu.
Budi menoleh sekilas, “Dulu. Sekarang lebih banyak jadi konsultan, tidak sesibuk dulu.” jawab Budi sambil tersenyum.
Setelah itu mereka tiba di dapur. Dapur itu menghadap taman kecil yang dipenuhi tanaman hijau. Lea berhenti di tengah ruangan dan membaca dapur itu. Ini kebiasaannya dari masa ketika ia masih sering memasak, dari masa ketika ia percaya bahwa dapur adalah memoar seseorang.
Dapur Budi adalah dapur yang baik. Peralatannya lengkap, lantainya menggunakan marmer putih keabu-abuan yang masih mengilap, pisau-pisau tertata di rak magnet yang menempel di dinding. Sebuah stand mixer berdiri di sudut meja—warnanya merah tua, terlihat mahal, nyaris tanpa goresan. Kompor gas dua tungku berdiri di salah satu sisi. Rempah-rempah yang berjajar di rak terlihat lengkap—seseorang sepertinya pernah memasak dengan sangat serius di ruangan ini. Cobek batu berada di sudut meja, sementara ulekannya tergeletak di sebelahnya. Ada juga sebuah celemek bergambar kucing tergantung di salah satu lemari.
“Bahan-bahan makanan sudah saya sediakan di kulkas dan lemari. Silakan dilihat-lihat dulu. Biar kamu saja yang putuskan mau masak apa.”
Lea mengangguk lalu berjalan menuju kulkas. Kulkas empat pintu itu terasa terlalu besar untuk seseorang yang tinggal sendirian. Di dalamnya tersusun berbagai jenis sayuran, ada makanan beku dan kepiting segar di bagian freezer, juga beberapa wadah berisi udang, daging sapi, ayam, dan fillet ikan yang diletakkan terpisah dari bahan-bahan lain. Semua isi kulkas itu tertata jauh lebih rapi daripada kulkas miliknya sendiri yang biasanya hanya berisi air minum dan beberapa sayuran untuk membuat sandwich dan salad.
“Memangnya Bapak suka makan apa?” tanya Lea sambil mulai membuka lemari-lemari dapur.
“Saya suka makan apa saja yang dibuatkan Esther. Tapi dia paling suka memasak seafood.” jawab Budi sambil mengusap tengkuknya berkali-kali.
Di lemari, Lea melihat beberapa makanan kaleng dan bumbu-bumbu pelengkap. Ada juga beberapa bungkus abon dan sekotak kecil telur asin.
“Kalau begitu hari ini kita masak seafood.” kata Lea.
Laki-laki itu mengangguk pelan. “Boleh. Bahan untuk seafoodnya juga masih segar semua, baru saya beli tadi pagi.”
Melihat semua bahan-bahan yang tersedia di dapur, Lea langsung tahu bahwa ia akan memasak sup kepiting asparagus dan udang saus telur asin. Pilihan itu muncul begitu saja tanpa perlu berpikir lagi.
Lea menggantung tasnya di sebuah gantungan dinding lalu mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas dan lemari. Kepiting, udang, asparagus kaleng, bawang putih, bawang bombai, daun bawang, telur, dan berbagai bahan lain dikumpulkan di atas meja dapur satu per satu. Ia merasa sedikit canggung karena ini akan menjadi pertama kalinya ia memasak setelah sekian lama. Tangannya tampak tenang, tapi dadanya perlahan dipenuhi kegelisahan. Ia memulai dengan mengupas beberapa bawang.
“Kalau gitu, saya tunggu di sini ya.” kata Budi sambil duduk di kursi meja makan. Posisi itu memungkinkannya melihat seluruh dapur tanpa harus ikut berdiri di dalamnya.
“Iya Pak.”
Lea mengambil talenan kayu yang tampak lebih tua dari semua perabot di dapur ini, lalu merajang bawang dengan penuh perhatian.
Setelah itu, ia mengangkat kepiting dari wadahnya. Capitnya terlipat seperti orang berdoa, dan masih diikat dengan tali rapia berwarna hijau.
“Kamu sudah lama memasak?” tanya Budi pelan.
“Dari umur belasan. Dulu sering ikut Mama masak di dapur.” jawab Lea.
“Esther juga mulai masak sejak remaja. Sampai kami menikah, dia selalu suka masak. Tidak pernah pakai resep, tapi selalu dari ingatannya.” Budi melihat ke arah Lea yang kini sedang meletakkan kepiting segar di talenan.
Lea membelah kepiting menggunakan pisau besar dengan satu gerakan tegas, lalu membersihkannya di bawah air keran.
“Pasti istri Bapak meninggalkan begitu banyak cerita pada dapur ini.” Lea menanggapi.
“Benar. Tapi bukan hanya dapur ini, seluruh bagian rumah ini juga tentang dia. Taman kecil itu juga dia yang merawat semua tanamannya.” Budi menundukkan kepala dan tidak melanjutkan lagi.
Lea menyadari bahwa kursi yang diduduki Budi sengaja menghadap ke satu sisi dinding. Di sana tergantung foto pernikahan berukuran hampir satu meter. Laki-laki itu terus menerus memandangi foto istrinya yang mengenakan gaun putih sederhana.
Sekali lihat, orang akan berpikir bahwa Budi adalah laki-laki yang cerdas, dapat dipercaya, dan mungkin jenis laki-laki yang terbiasa memimpin banyak orang. Namun raut murungnya yang muncul setiap ia mengingat istrinya, menghapus kesan itu hampir seketika. Tatapannya sering terpaku pada benda-benda di sekeliling rumah itu, bahkan ketika ia sedang mengobrol dengan Lea, seolah sebagian pikirannya selalu tertinggal di tempat lain.
Ketika Lea akan menyalakan kompor untuk memanaskan air, jantungnya berdegup sangat kencang. Menyalakan kompor berarti mulai menjadikan dapur itu hidup. Inilah bagian yang paling ia hindari selama bertahun-tahun. Dan setelah kompor itu menyala, itu seakan menjadi pengakuan bahwa ia akan tetap berada di sana sampai sesuatu selesai, dan ia tak bisa lari lagi.
Namun ia meyakinkan diri dan menarik napas panjang. Kompor pun menyala. Ia mulai mengisi air ke dalam panci lalu memasukkan kepiting ke dalam air itu setelah mulai mendidih. Selagi menunggu kepiting itu matang, ia membersihkan udang. Udang-udang itu berukuran sedang. Ia membuang bagian kepala dan mengupas kulitnya, sementara bagian ekor dibiarkan tetap ada. Ia mengerat punggung setiap udang untuk mencari kotoran seperti benang hitam, lalu membuangnya.
Ia bekerja dalam diam. Tangannya bergerak dengan keyakinan yang aneh, mengingat bahwa ia tidak pernah memasak setelah sekian lama, tapi ternyata tangan tidak lupa. Hanya pikiran yang memilih untuk tidak menggunakan apa yang mereka tahu.
Beberapa saat kemudian, kepiting di panci mulai matang. Warnanya berubah dari hijau keabuan menjadi merah jingga, perubahan yang selalu tampak ajaib meskipun Lea tahu persis kimia di baliknya.
Setelah itu kepiting dipindahkan ke wadah untuk diambil dagingnya. Mengambil daging kepiting adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan sedikit kekerasan. Ia mematahkan kaki-kakinya, memecahkan cangkang tubuh dengan palu kecil yang diambil dari laci, lalu mengeluarkan daging dengan sumpit. Ada bagian-bagian yang tidak mau keluar, tersangkut di sudut-sudut sempit cangkang, dan ia harus mendorong dari arah berlawanan, atau menekan dari luar, atau terkadang hanya menyerah dan membiarkan sisa kecil itu tetap di sana. Tidak semua hal bisa dikeluarkan dengan bersih. Hasilnya, kira-kira seratus lima puluh gram daging putih berserat dalam mangkuk. Penampilannya sedikit berkilat karena masih mengandung cairan alaminya sendiri.
Setelah semua elemen yang harus disiapkan telah terkumpul, sesi utama dari memasak sup kepiting pun dimulai. Lea mengambil wajan besar dan memanaskan minyak, kemudian memasukkan bawang putih dan bawang bombai yang sudah dicincang. Aromanya tersebar merata dalam seluruh tumisan, kemudian naik dan menciptakan uap tipis yang memenuhi dapur.
Budi yang sedari tadi ditelan dalam kemurungan mulai tersadarkan setelah mencium sulfur dari bawang yang mulai karamelisasi. Indra penciumannya seolah telah dibangunkan oleh aroma menggiurkan itu.
“Harum sekali wanginya. Saya jadi lapar duluan.” kata Budi.