Hari yang Indah untuk Makan Bersama

Widya Ma
Chapter #3

Rumah Kedua

Setelah pertemuannya dengan Budi, Lea mulai mempertimbangkan menawarkan jasanya kepada lebih banyak orang. Ia tidak tahu kenapa, tapi cara Budi mensyukuri dapurnya bisa hidup kembali, memberinya keberanian baginya untuk melakukannya lagi.

Setelah beberapa hari berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk memasang iklan di internet, di tempat orang-orang menawarkan jasa berbagai keperluan sehari-hari. Ada jasa design grafis, menerjemahkan dokumen, membersihkan rumah, hingga jasa titip membeli barang ke luar kota. Tapi jasa yang ditawarkan Lea—mungkin hanya dirinya sendiri yang menawarkan dan meski dia pun tidak yakin akan ada yang tertarik dan menghubunginya, ia tetap meneruskan.

Di draft iklan itu ia mengetik: Jasa memasak ke rumah. Jika anda membutuhkan dapur anda hidup dengan aroma masakan, saya bisa membantu menyiapkannya. Khusus Jabodetabek. 

Ia juga menambahkan poin yang menyatakan bahwa ia bisa memasak menu apa pun sesuai bahan yang tersedia. Lea memposting iklan itu dan kembali menjalani hari-hari tanpa terlalu memikirkannya. Ia bekerja seperti biasa dan kembali ke apartemennya dengan rutinitasnya yang tidak berubah.

Tapi ternyata, seseorang menghubungi empat hari kemudian.

*

Pada Minggu pagi, Lea tiba di depan rumah yang terletak di sebuah kawasan elit dan berdiri di ujung jalan yang tenang. Klien barunya ini adalah seorang perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai Sonya. Suaranya di telepon terdengar sangat hangat. Saat bertukar pesan singkat pun, pesan-pesannya selalu ditulis dengan tanda baca yang rapi dan tak ada satu pun kata yang disingkat—gaya menulis yang jarang ia temui dari orang-orang seusianya sendiri. Perempuan itu berkata bahwa ia hanya tinggal sendiri dan sangat ingin merasakan dapur di rumahnya hidup kembali dengan kehadiran seseorang yang menemaninya makan.

Taman di depan rumah Sonya dihiasai berbagai tanaman. Pot-pot tanaman disusun dengan jarak yang hampir sama, daun-daunnya dipangkas rapi, tidak ada ranting yang keluar dari batasnya. Semuanya tampak dirawat dengan kesabaran yang panjang.

Selama beberapa saat Lea diam di depan situ hingga akhirnya menekan bel. Begitu pintu rumah terbuka, ia langsung disambut oleh Sonya.

“Halo... Lea, ya? Ayo masuk,” kata Sonya. Usianya sekitar pertengahan lima puluhan. Rambutnya pendek, sedikit beruban di bagian pinggir, dan kacamata bacanya turun sedikit di batang hidung. Ia mengenakan sweter abu-abu yang terlihat nyaman dipakai bertahun-tahun. Tangannya—saat menjabat tangan Lea sebentar—terasa halus namun jabatannya mantap dan terasa profesional.

Rumah itu penuh dengan buku—baik di rak, di atas meja, hingga di sudut-sudut lainnya, seolah ia membaca bukan sebagai hobi tapi sebagai kebutuhan. Ruang tamunya dipenuhi sofa besar berwarna krem dengan bantal-bantal bertumpuk di kedua ujungnya, cukup untuk empat atau lima orang duduk sekaligus. 

Sonya mempersilakan Lea untuk duduk di kursi dekat dapur. 

“Duduk dulu, Lea. Saya buatkan teh,” kata Sonya.

Lea memperhatikan, rumah itu tampak terlalu besar untuk seseorang yang tinggal sendirian. Bangunannya memanjang ke belakang, dengan jendela-jendela lebar yang menghadap taman dan lorong yang terasa lebih panjang daripada yang diperlukan sebuah rumah. 

Dapur Sonya besar dan terawat. Tidak ada piring dan gelas kotor yang tertinggal di wastafel. Temboknya berhias marmer dan dipasangi deretan kabinet berwarna putih. Ada lemari kaca berisi piring-piring, mangkuk buah dan beberapa cangkir dan teko dari keramik. Ada kulkas besar yang dipenuhi magnet dari berbagai negara. Tapi ia merasakan sesuatu yang sama persis dengan yang ia rasakan di rumah Budi maupun di apartemennya sendiri—tempat itu tampak kesepian. Rumah itu tidak kekurangan apa pun kecuali suara manusia.

“Saya nggak minta kamu masak untuk saya,” kata Sonya sambil mengarahkan cangkir teh ke arah Lea dan ikut duduk di depannya. “Tapi temani saya masak. Boleh, kan?” 

Lea melingkari cangkir teh itu dengan kedua tangan, lalu mengangguk. “Boleh, Bu.”

“Dulu biasanya saya kalau masak ditemani anak-anak saya. Tapi sekarang mereka sudah punya kehidupan masing-masing. Yang perempuan sudah tinggal dengan suaminya di Jerman, yang laki-laki bekerja di Belanda. Mereka dulu sering menemani saya masak. Sudah lama sekali rasanya dapur ini tidak berisik.” kata Sonya.

“Dulu, setiap akhir pekan kami masak bersama. Kadang masak menu yang effort, kadang cuma membuat telur dadar sambil saling bercanda. Tidak penting masaknya apa. Yang penting ribut di dapur. Kalau suami saya, sudah meninggal sejak anak-anak masih kecil.” lanjut Sonya. 

Lea menyimak meniup permukaan tehnya.

“Sebetulnya saya rindu, tapi memang sudah seharusnya, kan—anak yang sudah dewasa punya kehidupannya sendiri.” Ia menunduk sebentar, tampak sedih, namun tetap tersenyum.

“Kita mau masak apa hari ini, Bu?” tanya Lea.

“Saya mau buat rawon.” 

Sonya bangkit dari kursinya lalu menuju ke dapur. “Rena, putri saya, paling suka rawon. Saya belum masak ini lagi sejak terakhir dia pulang. Dua tahun lalu.” 

Lea mengikuti Sonya melangkah ke dapur. Sonya membuka pintu kulkas dan mulai mengeluarkan satu per satu bahan-bahan untuk memasak rawon yang sudah ia persiapkan. Ada daging sandung lamur, tauge pendek, daun jeruk, serai, dan beberapa buah kluwek.

“Kalau yang laki-laki, suka makan apa?” tanya Lea.

“Kalau Reno—sebenarnya makanan favorit dia kentang mustofa. Tapi saya belum pernah berhasil bikin itu, selalu gagal. Dia suka yang teksturnya sedikit lembek, bukan yang terlalu garing. Rasa bumbu yang saya buat juga tidak sesuai selera dia yang lebih suka manis daripada pedas. Jadi kalau dia mau makan kentang mustofa selalu beli yang sudah jadi.”

“Sebenarnya, saya juga mau belajar membuat itu, tapi saya tidak ada persiapan.” Sonya melanjutkan.

“Kalai begitu saya masak itu juga. Saya belikan bahannya di supermarket sekitar sini.” kata Lea mantap.

“Jangan, biar saya saja. Saya kan cuma meminta kamu menemani saya masak di sini, bukan belanja juga. Saya tidak mau merepotkan.”

“Tidak apa-apa. Biar saya saja.”

Sonya memandang Lea sebentar, lalu mengangguk.

Lihat selengkapnya