Empat hari setelah kunjungan ke rumah Sonya, Lea kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Pagi dimulai dengan alarm yang berbunyi dua kali karena ia selalu mematikannya pada bunyi pertama, lalu mandi, mengenakan pakaian kerja, mengambil sandwich yang sudah disiapkan lalu berangkat menuju stasiun.
Di kantor, ia melakukan pekerjaan seperti seharusnya dan saat jam istirahat juga ada kotak bekal Sachi yang singgah ke mejanya. Ketika jam kerja selesai, ia masih pergi ke taman kecil yang sama sebelum pulang ke apartemennya
Ketika ia baru saja selesai mandi, membuat sandwich dan duduk di sofanya, ponselnya bergetar dengan sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
“Jasa masak kan? Bisa datang hari Minggu ini?”
Tidak ada salam pembuka yang panjang seperti biasanya orang yang hendak melakukan transaksi. Hanya kalimat pendek yang terasa tanpa niat untuk berbasa-basi.
Lea membalasnya dengan menanyakan lokasi sang pengirim, lalu balasannya datang beberapa menit kemudian. Orang itu tidak menjelaskan banyak hal. Ia hanya mengirimkan alamat di kawasan yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah lama Lea waktu masih bersama Ibu dan Ayahnya.
Tidak ada cerita tentang keluarga, orang tua, pasangan, anak, atau seseorang yang dirindukan. Tidak ada kalimat tentang dapur yang ingin dihidupkan kembali seperti Budi atau Sonya. Lea diminta datang pukul sebelas siang. Dan ketika Lea menanyakan kembali nama pengirim pesan untuk keperluan data, orang itu hanya menjawab bahwa ia bernama Dante—singkat, seperlunya, seolah setiap huruf yang diketik adalah sebuah pengeluaran yang harus dihemat
Lea tidak banyak bertanya lagi setelah itu. Lea menyimpan nomor itu dengan nama “Client - Dante”, menaruh ponselnya di meja, lalu menatap langit-langit apartemennya. Entah kenapa, yang ia alami bukan rasa penasaran seperti yang ia rasakan terhadap Budi maupun Sonya, melainkan semacam kewaspadaan kecil yang tidak bisa ia jelaskan.
*
Matahari hari Minggu baru saja memanjat pucuk-pucuk pohon ketika Lea tiba di alamat yang telah dikirimkan klien bernama Dante itu. Rumah itu berdiri di sebuah sudut jalan yang tenang. Jalanannya lebar dan bersih, pepohonan yang ditanam di pinggir jalan masih terlalu muda untuk memberikan bayangan yang benar-benar berarti.
Bangunannya minimalis modern, didominasi warna abu-abu semen dan hitam, beratap datar, dengan garis-garis arstitektur yang hampir seluruhnya terdiri dari garis-garis lurus—membuatnya terasa tegas, kaku, dan dingin. Jendela-jendelanya besar namun ditutupi tirai gulung berwarna hitam yang membuat bagian dalam rumah itu tidak terlihat sama sekali dari luar—sehingga memancarkan aura kesendirian yang pekat, seolah sengaja dibangun untuk membentengi penghuninya dari dunia luar.
Tidak ada pekarangan seperti di rumah Sonya, hanya hamparan kerikil putih yang tersusun rapi mengelilingi sebuah batu besar berbentuk tidak beraturan.
Lea berdiri sejenak di depan pintu, merapikan letak tasnya, lalu menekan bel. Suara musik samar-samar terdengar dari dalam—seperti sesuatu yang berat, dengan distorsi gitar yang menggeram pelan sebelum tiba-tiba berhenti, seakan orang di dalam buru-buru mematikannya begitu menyadari ada tamu.
Suara langkah kaki yang agak diseret terdengar dari balik pintu, diikuti bunyi grendel besi yang digeser. Pintu terbuka perlahan, dan seorang pria muda berdiri di ambangnya.
Laki-laki yang berdiri di sana membuat Lea sedikit terdiam.
Usianya mungkin sekitar dua puluh tujuh tahun. Tingginya jauh melampaui tinggi Lea, mungkin sekitar seratus delapan puluh lima sentimeter, membuat Lea refleks agak mendongak. Rambutnya gondrong hingga menyentuh leher, yang dibiarkan tergerai dan sedikit berantakan. Ia mengenakan kaos hitam polos dan celana cargo selutut.
Wajahnya memiliki garis rahang yang simetris dan tegas, alis tebal, hidung yang mancung—tapi ada sesuatu yang membuat semua ketegasan itu terasa runtuh: matanya dengan lingkaran gelap di bawahnya, seperti seseorang yang sudah lama tidak benar-benar tidur.
“Dante?” tanya Lea.
Laki-laki itu hanya mengangguk sekali, lalu berkata, “Masuk.”
Suaranya serak, rendah, dan tanpa intonasi. Ia lalu menyingkir sedikit dari ambang pintu, memberi ruang bagi Lea untuk masuk tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Tidak ada basa-basi. Tidak ada senyuman. Rautnya diselimuti awan suram yang begitu pekat, membuat Lea sedikit tidak yakin untuk melanjutkan. Namun pada akhirnya Lea tetap masuk, melangkah pelan melewati ambang pintu.
“Selamat pagi,” jawab Lea dengan nada sesopan mungkin. Pria itu tidak membalas sapaan Lea.
Bagian dalam rumah itu jauh lebih terang dari kesan luarnya yang gelap. Lantai kayu berwarna terang membentang dari ruang tamu hingga ke dapur yang terbuka, tanpa sekat. Rumah itu tidak berantakan, tapi juga tidak tampak seperti rumah yang benar-benar dirawat. Sebuah sofa hitam besar menghadap televisi yang cukup lebar. Di atas meja terdapat beberapa cangkir kopi yang sudah kosong, ditumpuk begitu saja tanpa dicuci. Ada juga remote televisi, bungkus rokok yang sudah kosong, dan sebuah asbak dengan abu rokok yang menumpuk.
Sebuah gitar listrik hitam bersandar di sudut ruangan, dekat dengan amplifier yang kabelnya masih tergeletak sembarangan di lantai, dan beberapa koleksi piringan hitam di sebuah rak. Di dinding, ada beberapa poster band rock yang sudut-sudutnya mulai terkelupas dari dinding.
“Dapurnya di situ,” kata Dante, menunjuk dengan dagu ke arah ruangan terbuka di sisi kiri. Ia kemudian langsung duduk di sofa, menyandarkan lehernya hingga menengadah dan memejamkan matanya.
Lea mengikuti arah tunjukannya. Ia berjalan menuju dapur bersih yang menyatu dengan ruang tengah. Dapur itu kecil namun modern, dengan meja island berwarna hitam matte di tengahnya, kompor dua tungku, dan kulkas berukuran sedang yang berdiri di sudut.
Lea membuka kulkas untuk melihat isinya, dan yang ia temukan membuatnya diam sejenak.
Rak-rak kulkas itu nyaris kosong. Hanya ada beberapa butir telur, sebungkus sosis yang sudah dibuka, dua kaleng minuman bersoda, dan plastik berisi sawi yang sudah mulai kehilangan kesegarannya. Tidak ada daging, tidak ada bahan-bahan lain yang biasanya menjadi dasar sebuah masakan rumahan.
“Bahannya... nggak banyak ya,” kata Lea, mencoba membuka percakapan sambil menutup pintu kulkas.
“Iya.” Jawaban Dante singkat, tanpa penjelasan tambahan.
Ia pindah duduk ke salah satu kursi bar dekat meja island, kedua tangannya terlipat di atas meja, matanya menatap ke arah lain—entah ke mana, tapi jelas bukan ke arah Lea.
“Mau saya masakin apa? Kalau kamu mau saya bisa belanja dulu—”
“Mie aja. Ada di dalam rak.” Dante langsung memotong.
Lea membuka rak dan ia melihat tumpukan bungkus mie instan—entah berapa banyak, tersusun rapi seperti dibeli dalam jumlah besar sekali waktu.
Lea berhenti sejenak, mengira ia salah dengar. “Mie... instan?”
“Iya.” jawab Dante tanpa memandang Lea.
“Itu saja?”
“Iya.”
“Oh.” Lea mengerjap. Ini pertama kalinya seorang klien memintanya memasak sesuatu yang begitu sederhana—hanya semangkuk mie instan yang bisa matang dalam waktu kurang dari lima menit.
Untuk sesaat ia berpikir apakah ini semacam candaan. Tapi wajah Dante tidak menunjukkan tanda-tanda bercanda. Wajah itu tetap sama—datar, lelah, seperti seseorang yang sedang menghabiskan energinya hanya untuk tetap duduk tegak di kursi itu.
Meski masih bingung dan merasa aneh, Lea berusaha tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa bertanya lebih banyak. Setelah menggantungkan tasnya di sandaran kursi, Lea bertanya pada Dante, “Mau yang rasa apa?”
“Bebas.”
Akhirnya, Lea mengambil sebungkus mi instan dari rak tanpa memilih rasanya, dan yang terambil adalah mie kuah rasa ayam bawang.
“Saya mulai masak ya,” kata Lea. Dante hanya merespon dengan suara napas yang berat.
Lea mengambil sayuran dari dalam kulkas dan mencuci sayuran itu di bawah kucuran air keran yang pelan, membiarkan butiran air menyapu daunnya.
Ia lalu mengisi panci kecil dengan air, meletakkannya di atas kompor, lalu menyalakan api. Sambil menunggu air mendidih, ia mencuci sawi di bawah keran, memotong-motongnya menjadi bagian yang tidak terlalu besar.
Air mulai mendidih. Gelembung-gelembung kecil naik ke permukaan dan berubah menjadi riak yang lebih ramai. Ia membuka bungkus mie instan, memisahkan bumbu dan minyaknya, lalu memasukkan mie ke dalam air mendidih itu.
Ia menuangkan bumbu dan minyak bawang ke dalam mangkuk saji. “Suka pedas nggak?” tanya Lea sambil menoleh sekilas ke arah Dante. Dante tidak menjawab. Kepalanya sedang ditundukkan hingga menyentuh meja, tampak seperti patung tanah liat yang nyaris meleleh.
“Kalau gitu saya kasih setengah saja bumbu cabenya.” kata Lea, berusaha mencari jalan tengah, walau ia tahu ucapannya tidak akan ditanggapi. Ia melanjutkan memasak tanpa memaksakan percakapan lebih jauh.
Setelah itu Lea memperhatikan mie sampai helaian-helaian yang kaku mulai terpisah satu sama lain, lalu melonggarkannya perlahan menggunakan garpu. Uap panas membawa aroma tepung yang khas. Ia memecahkan sebutir telur dan memasukkannya ke atas mie yang sudah mulai melunak, membiarkan bagian putihnya perlahan membeku mengelilingi kuning telur di antara untaian mie. Ada sedikit bagian kuning telur yang pecah membuat kuah menjadi sedikit keruh. Pada detik-detik terakhir, potongan sawi hijau dimasukkan.
Lea mematikan api setelah memastikan semuanya sudah cukup matang. Ia lalu memindahkan mie beserta kuahnya ke dalam mangkuk. Aroma mie instan yang khas—minyak dan bumbu rempah yang menguar dari uap panas—mulai memenuhi dapur kecil itu. Lea memperhatikan bahwa Dante mengangkat kepalanya sedikit, hidungnya seperti menangkap sesuatu dari udara.
Lea membawa mangkuk tersebut ke meja dan meletakkannya perlahan di hadapan Dante, lengkap dengan sebuah sendok dan garpu.