Hari yang Indah untuk Makan Bersama

Widya Ma
Chapter #5

Dante

Ketika Lea tiba di depan rumah itu untuk kedua kalinya, suasana di sekitarnya tidak jauh berbeda. Tirai hitam di jendela rumah itu juga masih menutup rapat. Tapi kali ini, Lea tidak mendengar suara musik dari dalam. Hanya sunyi.

Setelah menekan bel, ia melihat Dante berdiri di ambang pintu, mengenakan kaos hitam yang berbeda dari minggu lalu, tapi raut wajahnya masih sama—lelah, dengan lingkaran gelap di bawah matanya yang tampak tidak berkurang sama sekali.

“Masuk,” katanya singkat, memberi jalan bagi Lea.

Lea pun masuk setelah melepas sepatunya di dekat pintu, matanya sekilas menyapu ruang tamu yang juga masih sama dinginnya seperti minggu lalu.

“Mau masak apa?” tanyanya.

“Sama kayak kemarin.” Jawab Dante, sudah lebih dulu duduk di kursi bar, tempat yang sama dengan minggu lalu, dengan posisi duduk yang sama, seakan-akan tubuhnya sudah hafal di mana ia harus berada.

“Mie instan lagi?” Lea tetap memastikan meski ia sudah tahu jawabannya. Dante mengangguk di kursinya.

Saat menuju dapur dan membuka kulkas, Lea menemukan isinya tidak jauh berbeda dari minggu lalu, hanya bertambah satu bungkus sosis baru dan selusin telur dalam bungkus mika yang tampaknya belum dibuka sama sekali.

Lea langsung memulai proses yang sama seperti minggu lalu. Dante duduk diam memperhatikannya dari kursi, matanya mengikuti setiap gerakan tangan Lea hingga membuat Lea merasa seperti sedang diawasi.

“Lu inget takaran airnya kemarin?” tanya Dante tiba-tiba, memecah keheningan.

“Nggak, saya cuma taruh dengan perkiraan.”

“Tapi bisa bikin rasanya sama kayak minggu lalu?” kata Dante penuh harap.

“Saya coba.”

Lea mulai menyalakan kompor. Bunyi air mendidih kembali mengisi keheningan rumah minimalis itu. Meski hanya memasak mie instan, Lea tidak mengerjakannya asal-asalan. 

Tangannya bergerak gesit dan luwes—memotong sayur, merebus mie, memecahkan telur, dan menyiapkan bumbu di dalam mangkuk keramik putih—semuanya dilakukan dengan perhitungan agar bisa menghasilkan mie sesuai keinginan Dante. Kali ini ia juga menambahkan potongan sosis goreng seperti kelopak bunga mekar sebagai pelengkap di atas mie itu. Seluruh proses itu terasa seperti ritual yang memusatkan seluruh fokusnya.

Proses memasak berjalan lebih nyaman dari minggu sebelumnya. Keheningan yang melingkupi mereka kali ini tidak lagi terasa kaku atau menekan. Dante memperhatikan Lea yang begitu serius menyiapkan mie itu—seolah semangkuk mie instan yang ia buat adalah hidangan yang pantas mendapat perhatian sepenuhnya.

Setelah mie selesai disajikan, Lea memindahkan mangkuk hangat itu ke meja makan. Ketika mangkuk itu diletakkan di depan Dante, aroma yang sama seperti minggu lalu kembali memenuhi dapur—minyak bawang, bumbu rempah, dan uap panas yang mengepul pelan ke udara, membentuk kabut tipis yang sebentar menghalangi wajah Dante dari pandangan Lea.

Dante menatap mangkuk itu lebih lama dari minggu lalu, seperti sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang ia tahu akan terjadi. Ia meraih garpu, jarinya sedikit gemetar saat menggulung mie di antara gigi-gigi garpu itu, lalu menyuapkan suapan pertama ke mulutnya dengan perlahan.

Dan sama seperti minggu sebelumnya, pada suapan pertama, air mata pria itu kembali menetes.

Lea duduk di seberangnya, tidak berkata apa-apa. Ia masih mencoba memahami apa yang kira-kira Dante rasakan, tidak berusaha mencari tahu meski dalam hatinya ia sangat ingin tahu apa cerita Dante.

Dante melanjutkan suapan kedua, dan air mata lainnya kembali menggenang di matanya sebelum akhirnya jatuh—nyaris ke dalam mangkuk mie. Ia terus menangis sambil terus makan. Tidak ada kata-kata yang keluar. Pria jangkung berpenampilan keras itu menangis sesenggukan seperti anak kecil yang kehilangan arah di tengah kegelapan.

“Dante,” panggil Lea dengan suara lirih namun jernih. “Kalau ada yang mau kamu ceritakan, kamu bisa cerita sama saya.”

Dante tidak menjawab, tapi guncangan di bahunya sedikit mereda. Ia meletakkan garpunya kemudian diam beberapa saat, lalu mengusap matanya dengan lengan kaos hitamnya. 

“Udah setahun,” katanya akhirnya, dengan suara serak. “Udah satu tahun gue cuma makan mie instan... Nggak pernah makan yang lain.”

“Mie instan?”

Dante mengangguk.

“Kenapa?”

“Dulu gue tinggal di sini berdua sama sahabat gue. Namanya Rian.”

Lea diam, menyimak. Ia meletakkan kedua tangannya di pangkuan, memberi ruang penuh bagi Dante untuk melanjutkan tanpa merasa dikejar.

“Kita ngontrak rumah ini bareng. Waktu itu kami berdua sama-sama lagi berjuang. Bikin musik, ikut audisi sana-sini, atau manggung di kafe-kafe kecil yang bayarnya nggak seberapa.”

Dante berhenti sebentar, menatap kosong ke arah gitar listrik yang bersandar di sudut ruang tamu, seperti benda itu memiliki gravitasi sendiri yang selalu menarik pandangannya kembali.

“Kami berdua gitaris. Tapi dia yang lebih jago.”

“Dulu kami sama-sama belum punya apa-apa. Duit pas-pasan. Kalau dapat uang dari manggung, ya buat bayar kontrakan, makan, bensin. Kalau lagi nggak ada uang, ya makan mie.”

“Dia kayak abang gue sendiri. Gue anak tunggal. Ortu gue di kampung, jauh, jarang komunikasi. Rian yang selalu ada. Yang ingetin gue makan, yang bangunin gue kalo gue kesiangan, yang selalu bilang lagu-lagu gue bagus meskipun gue sendiri sering ragu.” 

“Kalau kami capek latihan sampai malam, atau kalau uang kami tinggal pas-pasan, dia selalu masak mie instan di dapur itu.” Ia menyeka hidungnya dengan punggung tangan. “Dia selalu bikin dua mangkuk. Satu buat dia, satu buat gue. Kadang pakai telur, kadang cuma mie doang kalau lagi gak ada uang.”

“Gue lebih suka mie buatan dia daripada bikin sendiri. Karena buatan dia lebih enak.”

Lihat selengkapnya