Lea masih tidak mempercayai dirinya sendiri bahwa ia sudah berada di depan pintu masuk toko pangan itu meski merasa belum butuh untuk membeli keperluan membuat sandwich atau salad.
Ia berdiri beberapa detik di depan pintu otomatis itu, membiarkan udara dingin dari dalam toko menyapu wajahnya setiap kali pintu terbuka untuk orang lain. Ia menghitung dalam hati, berapa kali pintu itu sudah terbuka-tutup sejak ia berdiri di sana. Setiap kali pintu terbuka, aroma dingin bercampur wangi buah-buahan dan sayuran segar menyapu keluar, seperti mengundangnya masuk.
Ia merasa aneh karena tak ada perlawanan berarti dari dirinya, yang berjuang sekuat tenaga untuk berbalik meninggalkan tempat itu untuk langsung mengunci diri di ruang apartemennya. Yang justru terjadi adalah ia berjalan masuk, lalu langsung melangkah ke tempat penjualan daging dan seafood—yang tidak biasanya ia datangi setiap ke tempat itu.
Lampu neon di toko itu memantul pada lantai keramik yang mengilap, membuat setiap daging-daging dan berbagai jenis makan laut di dalam etalase itu terlihat seperti dipamerkan di balik kaca museum. Ia berjalan pelan di antara etalase daging itu tanpa menyentuh apa pun.
Ada bau khas dari daging dan makanan laut yang menyergap hidungnya—bercampur hawa dingin yang keluar dari lemari pendingin. Ia juga berjalan lebih jauh ke tempat sayuran dan langsung menghirup aroma sayuran segar dan sedikit aroma rempah kering dari rak-rak bumbu. Selama lima tahun terakhir, ia biasanya tak pernah merasakan semua aroma itu karena hanya mengambil bahan-bahan sandwich atau salad dan langsung membayar tanpa memperhatikan apa pun selain yang dibutuhkannya.
Rasa asing itu membuatnya berhenti, tapi entah kenapa memancingnya untuk bergerak hingga tanpa sadar ia mengambil troli belanja. Ia menyusuri kembali setiap lorong di toko itu.
Awalnya ia masih bisa merasakan tangannya berhenti tepat sebelum menyentuh makanan-makanan itu, seolah ada kaca tak kasatmata yang memisahkannya dari benda-benda itu. Tapi setelah beberapa saat, tangannya bergerak nyaris tanpa perintah dari kepalanya—seolah tubuhnya sendiri yang memutuskan apa yang harus dimasukkan. Ia mengambil daging iris, daging steak, dada ayam, hingga iga sapi yang semuanya sudah dikemas dalam kemasan wadah foam berlapis plastik wrap.
Setelah itu ia juga menuju rak-rak sayuran yang sedang disemprotkan embun buatan secara berkala untuk menjaga kesegaran. Ia mengambil dua ikat daun bawang, berbagai sayuran hijau, kol, jamur, paprika dua warna, juga bahan pelengkap yang sudah dikemas dalam kemasan foam—ada bawang merah dan bawang putih, bawang bombai, tomat, cabai, dan jahe. Tidak ada rencana menu yang jelas di kepalanya. Ia hanya mengikuti insting tangannya yang entah bagaimana, masih ingat kombinasi-kombinasi yang dulu sering ia lihat di dapur lamanya.
Ia sempat berhenti sejenak di depan rak beras, mengambil kemasan paling kecil, seakan takut jika terlalu banyak berarti terlalu berkomitmen. Lalu telur, garam, dan gula pasir dalam kemasan kecil.
Setelah membayar di kasir, ia mengangkat kantong plastik itu dengan kedua tangan, dan untuk sesaat merasakan berat di jari-jarinya—berat yang sudah lama tidak pernah ia rasakan, berat yang dulu biasa dijinjing bersama Ibunya setelah pulang dari toko pangan setiap akhir pekan.
*
Sesampainya di apartemen, Lea meletakkan kantong belanjaan itu di atas meja dapurnya. Ia berdiri diam sejenak menatapnya, seperti menatap sesuatu yang datang dari masa lalu dan entah bagaimana caranya terdampar di masa sekarang.
Ia mulai mengeluarkan isinya satu per satu, menyusunnya di atas meja hingga semuanya berjajar rapi, menunggu untuk diproses menjadi sesuatu.
Meski belum tahu apa yang akan ia buat dengan bahan-bahan itu, ia langsung mencoba menyalakan kompor listrik di dapurnya untuk pertama kalinya sejak ia menempati apartemen itu. Setelah tombol pada panelnya ditekan, muncul pijar merah di permukaannya sebagai indikator bahwa kompor telah menyala. Ia menatap pijar merah itu lama sekali, seperti sedang menunggu sesuatu terjadi di dalam dirinya sendiri—sebuah izin atau tanda, yang akan memberitahunya bahwa ia boleh melanjutkan.
Tapi tangannya tidak bergerak menuju apa pun. Ia hanya berdiri di sana, di depan kompor yang menyala, dengan bahan-bahan yang tersusun rapi di dekatnya, dan tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya menjadi berat. Ia lekas mematikan kompor itu.
Ia berdiri di sana, menatap tangannya sendiri seolah tangan itu bukan miliknya—tangan yang sebelumnya bisa dengan lincah memasak di dapur Budi, di dapur Sonya, di dapur Dante, tapi tiba-tiba menjadi kaku dan asing ketika berdiri di dapurnya sendiri.
“Belum,” pikirnya. “Belum sekarang.”
Dengan segera ia menyerah pada rasa takut yang menyelubunginya. Bukan takut pada rasa yang akan muncul di lidahnya, melainkan takut pada keheningan yang akan menyambutnya setelah masakan itu matang.
Ia mengambil satu per satu bahan yang sudah dikeluarkannya, memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik, lalu membuka pintu kulkas dan menyusunnya di rak paling bawah, sementara daging-daging disimpan di freezer. Beras ia taruh di lemari, dalam wadah kedap udara yang entah sejak kapan tersimpan tanpa pernah dipakai.
Pintu kulkas tertutup dengan bunyi klik pelan. Lea tak tahu untuk apa akhirnya bahan-bahan makanan itu ia simpan jika nanti kemungkinan tidak akan terpakai dan akan tetap di dalam sana sampai membusuk. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu kulkas itu selama beberapa detik, menutup mata, membiarkan dinginnya menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuh.
Malam itu, ia tetap makan sandwich, seperti biasa.
*
Lea sedang duduk di jam istirahat kerjanya sambil seperti biasa mengenakan headphone yang tidak memutar apa pun. Saat itulah ia mendapat sebuah pesan dari sebuah nomor tak dikenal.
“Halo kak, saya lihat iklan Kakak. Saya tertarik menggunakan jasa Kakak. Tapi saya jelasin dulu situasinya. Saya bukan minta Kakak untuk masakin saya, tapi untuk ajarin aku masak. Kira-kira Kakak bisa nggak?”
Lea membalasnya dan mengatakan bahwa ia bersedia. Beberapa menit kemudian, balasan pesan itu datang.
“Terima kasih banyak, Kak. Tapi, bisa gak, kalau datangnya sore aja di hari biasa? Karena kalau Sabtu Minggu ada Bapak aku, Kak.”
Lea mempertimbangkan selama beberapa saat. Walau ia merasa bingung dengan permintaan dan situasi itu, tapi akhirnya ia mengiyakan dan mereka sepakat bertemu sore di hari itu juga.
*
Klien yang memperkenalkan dirinya sebagai Yuda itu menyambutnya di depan sebuah rumah di pemukiman sederhana. Usianya kira-kira masih awal dua puluh tahun. Saat menyambut Lea, ia masih mengenakan seragam sebuah minimarket yang nampak familiar bagi banyak orang. Pemuda itu tampak seperti baru pulang dari pekerjaannya.
“Terima kasih ya Kak, sudah mau datang.” pemuda itu melemparkan senyum kecil yang tulus, meski sangat jelas bahwa wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kelelahan yang tidak sepadan dengan usianya.
Tanpa banyak basa-basi, Lea segera dibawa masuk ke dapur. Dapur rumah itu sederhana tapi bersih, dengan peralatan yang cukup meski tidak lengkap. Ada satu foto di kulkas, ditempel dengan magnet berbentuk kupu-kupu: foto seorang perempuan paruh baya dengan laki-laki yang sepertinya Yuda, bersama seorang anak kecil perempuan di antara mereka yang jelas sekali sedang tertawa lepas.
Yuda dan Lea berdiri di depan kulkas itu.
“Saya punya adik umur tujuh tahun, Kak. Saya kerja. Kadang pulang cepat, tapi kadang suka telat pulang, jadi adik saya sering makan sendirian dan seadanya.” kata Yuda.
Lea menyimak.
“Ibu saya sudah meninggal, Kak. Dulu biasanya Ibu yang masakin. Sekarang saya yang jaga adik saya.”
“Bapak kamu ke mana sekarang?” tanya Lea.
“Kerja, Kak. Tapi serabutan. Biasanya pulang tengah malam. Kalau Sabtu Minggu ada di rumah terus.” jawab Yuda.
“Biasanya saya cuma bisa buat telur ceplok atau mie instan. Kalau beli makanan di luar, Bapak suka marah. Boros, katanya. Kalau Bapak saya tahu saya beli makan di luar, dia akan mukulin saya, Kak. Katanya daripada buang-buang uang, lebih baik dipakai untuk beli TV baru. Saya gak mau kayak gitu lagi. Takut adik saya ikut dipukulin juga. Sejak itu saya coba masak biar adik saya bisa makan tanpa beli di luar. Tapi saya pernah coba buat nasi goreng, hasilnya malah lengket dan gosong. Pernah juga masak sayur sop tapi rasanya gak enak dan adik saya jadinya gak mau makan.” lanjut Yuda.
Lea melihat kesedihan pada mata pemuda itu, namun ia tetap bertahan mendengarkan.
“Makanya sekarang saya mau belajar masak, biar adik saya nggak makan yang itu-itu aja.” kata Yuda sambil menunduk.
Seorang anak perempuan berumur tujuh tahun muncul dari balik punggung Yuda dengan kaus bergambar kucing. Matanya besar dan langsung menatap Lea dengan penuh rasa ingin tahu yang sangat jelas—siapa dia dan sedang apa dirinya di rumah ini.
“Ini adik saya, Kak. Namanya Sari.” kata Yuda.
Lea tersenyum kepadanya, lalu sedikit membungkukkan tubuh agar wajah mereka berada pada ketinggian yang hampir sama. “Hai, Sari.”
Sari menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil sambil mengangguk malu-malu.
“Kalian mau makan apa?” tanya Lea.
“Saya udah beli bahan untuk sayur sop, Kak. Sama ikan kembung juga.”