Pesan dari Dante datang pada suatu malam ketika Lea baru saja selesai mandi. “Bisa datang minggu ini? Tapi bukan untuk masak mie instan. Gue mau juga cobain masakan lu yang lain.”
Lea menatap layar ponselnya cukup lama. Ada sedikit kelegaan yang menjalar di dadanya, bahwa sekarang Dante bersedia mencoba sesuatu yang lain setelah hanya makan mie instan selama satu tahun terakhir. Ia membalas pesan itu dengan singkat, mengiyakan, lalu meletakkan ponselnya kembali.
Ketika Lea tiba di rumah Dante hari Minggu itu, tirai hitam masih menutup jendela seperti biasa, tapi ada satu hal yang berbeda—pintu terbuka sedikit lebih cepat dari yang biasanya, seolah Dante sudah menunggu di dekat pintu sejak tadi.
“Bahannya udah gue siapin di dapur,” kata Dante. “Gue mau masak soto. Tapi kalau lu mau masak yang lain juga nggak apa-apa.”
Lea mengangguk pelan, lalu berjalan menuju dapur. Di atas meja dapur, ia melihat ada sebungkus ayam potong, bihun, kol, tauge, tomat, jeruk nipis, bawang merah, bawang putih, kunyit, serai, dan berbagai bumbu lainnya, tersusun rapi seperti seolah sudah bersiap dengan apa yang akan mereka alami hari ini.
Lea tersenyum melihatnya.
“Kamu belanja sendiri?”
“Iya, tapi sebenernya karena gue gak ngerti apa-apa soal masak, tadi gue tanya salah satu Ibu yang jual ayam di pasar, ‘bahan-bahan buat bikin soto ayam apa aja?’ terus dia bantuin gue belanja.” Dante menjawab sambil menggaruk belakang lehernya, terlihat sedikit canggung dengan pengakuannya sendiri.
Menu itu sebenarnya sederhana, tapi butuh waktu. Bumbu soto harus dihaluskan dan ditumis sampai harum, ayam harus digoreng dan disuwir dengan penuh kesabaran, belum lagi menyiapkan bawang goreng, telur rebus, dan berbagai pelengkap lainnya—semuanya akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibanding memasak mie instan. Tapi entah kenapa, justru Lea merasa senang menghadapi proses yang panjang itu, seolah waktu yang lebih lama berarti ruang yang lebih luas untuk berada di sana.
Dante juga tampak lebih segar daripada minggu-minggu sebelumnya. Rambutnya tampak baru dicuci, dan untuk pertama kalinya Lea tidak melihat lingkaran gelap yang biasa membayangi matanya terlihat sepekat biasanya.
Lea langsung mencuci tangan dan menyiapkan bumbu-bumbu dan bahan pelengkap. Ia kupas bawang-bawang yang dibutuhkan untuk bumbu dasar kuah dan untuk membuat bawang goreng, lalu mengupas kunyit yang warnanya menodai ujung kukunya dengan semburat jingga. Setelah semuanya terkumpul, ia goreng bawang merah dan bawang putih itu bersama kunyit dan kemiri hingga layu dan harum. Di sebuah cobek batu yang ia temukan di sudut lemari bawah, ia letakkan ketumbar bersama lada dan biji pala, lalu menguleknya bersama bawang-bawang yang sudah digoreng sebelumnya. Gerakan tangannya sangat luwes dan berirama seperti sudah dilakukan ribuan kali.
Dante duduk di kursi bar seperti biasa, tapi kali ini matanya tidak menatap kosong ke arah lain. Ia memperhatikan setiap gerakan Lea dengan seksama, seperti anak kecil yang menonton sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sesekali Lea menyelipkan percakapan ringan dengan Dante—tentang pekerjaan, tentang cuaca, dan apa pun yang bisa membuat suasana dapur tidak terlalu hening.
“Jadi sekarang kamu udah gak makan mie instan setiap hari kan?” tanya Lea.
“Setelah lu terakhir datang, malamnya gue coba makan nasi goreng di pinggir jalan dekat sini.”
“Oh ya? Gimana perasaan kamu?”
“Setelah lu terakhir datang, malamnya gue coba makan nasi goreng di warung deket sini.”