Hari yang Indah untuk Makan Bersama

Widya Ma
Chapter #8

Kembali ke Rumah

Hari-hari berikutnya, ponsel Lea masih dipenuhi pesan-pesan dari nomor-nomor asing yang menanyakan rumah lamanya. Pesan-pesan itu datang silih berganti, kadang dua atau tiga dalam sehari, dari nomor yang berbeda-beda tapi dengan nuansa yang serupa—sopan di permukaan, tapi mendesak di baliknya. Lea hanya membaca sekilas, lalu menutup layar ponselnya tanpa membalas, seperti menutup pintu pada sesuatu yang tidak ingin ia hadapi.

Tak hanya pesan singkat, beberapa juga langsung menghubungi melalui telepon. Lea menjawab seadanya, menolak dengan sopan, lalu menutup telepon tanpa memberi harapan apa pun. 

Tapi setelah pesan-pesan dan panggilan-panggilan itu semakin sering, bayangan rumah lamanya terus mengganggu pikirannya. Ia menyadari bahwa rumah itu memang nampak terlalu mencolok bahwa sudah lama tidak ditempati. Mungkin selama ini ia terlalu lama membiarkannya begitu saja dan ia merasa harus membersihkan rumah itu agar tampak seperti rumah yang masih dihuni.

Pada Jumat malam, Dante menghubungi untuk meminta Lea masak lagi

“Lea, besok siang bisa datang?”

Lea langsung membalas pesan itu. “Maaf, Dante. Besok saya mau ke rumah lama saya dulu buat bersih-bersih. Udah lama nggak diurus. Kalau hari lain gimana?”

Balasan Dante datang tidak lama kemudian. “Oh gitu. Emang rumahnya di mana tuh?”

“Dekat kok dari rumah kamu.” Lea membalas.

“Serius? Gue temanin aja!”

Lea menatap layar ponselnya lama sekali. Ia awalnya merasa ingin menolak dan mengatakan bahwa ia bisa melakukannya sendiri, bahwa ini adalah sesuatu yang seharusnya ia hadapi sendirian. Tapi ada perasaan lega setelah mendengar tawaran itu, seperti menerima uluran tangan agar ia tak perlu merasa sendirian.

“Boleh,” balas Lea akhirnya.

Mereka pun sepakat untuk bertemu keesokan paginya.

*

Pagi itu langit cerah. Mereka bertemu di ujung gang menuju rumah lama Lea. Dante datang mengenakan kaos hitam bergambar logo band rock dan celana cargo selutut. Ia membawa dua kantong plastik berisi peralatan bersih-bersih dan beberapa botol air mineral.

“Gue bawa ini, siapa tau lu belum sempat beli,” katanya, mengangkat kantong plastik itu sedikit.

Lea menatapnya, sedikit terharu oleh perhatian kecil yang tidak pernah ia minta. “Makasih, Dante.”

Mereka berjalan bersama menyusuri gang yang itu. Terlihat beberapa Ibu-ibu bergerombol di dekat gerobak sayur, anak-anak berlarian atau menaiki sepeda, dan suara-suara musik terdengar samar dari beberapa rumah yang pintunya terbuka. Dante tidak banyak bicara, hanya sesekali melirik ke arah Lea yang langkahnya semakin melambat semakin dekat mereka dengan rumah itu.

Mereka akhirnya sampai di depan rumah yang mereka tuju. Lea berdiri terpaku beberapa saat di depan pagar. Ia lalu mendorong pagar itu dengan pelan, namun suaranya terdengar berderit seperti erangan sesuatu yang lama tertidur. Mereka melangkah melewati pagar dan berhenti di depan pintu utama yang permukaannya mulai kusam.

“Santai aja. Lu nggak harus buru-buru,” kata Dante pelan. 

Lea mengangguk, menarik napas panjang, lalu mengeluarkan kunci dari tasnya—kunci yang selama lima tahun tidak pernah ia gunakan, tapi selalu ia bawa ke mana pun ia pergi, seolah ada bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar rela melepaskan rumah itu. Dingin logam dari kunci itu terasa asing di telapak tangannya. Ia sempat gemetar saat memasukkan kunci ke lubangnya, tapi memaksa jarinya tetap tenang hingga kunci itu berputar dan terdengar bunyi klik dari dalam.

Ketika pintu itu akhirnya terbuka, bau debu dan udara yang terlalu lama terkurung langsung menyergap mereka penciuman mereka berdua. 

Lea berdiri di ambang pintu, tidak langsung melangkah masuk. Matanya menyapu ruang tamu yang temaram karena tirai-tirai yang masih tertutup rapat—sofa yang dulu sering diduduki ayahnya kini tertutup kain putih yang sudah menguning dan berdebu. Meja kecil di sampingnya masih menyimpan sebuah vas bunga yang kosong.

“Rasanya aneh. Kayak waktu berhenti di sini, tapi saya yang terus jalan.” kata Lea lirih. Dante menanggapi dengan sentuhan kecil di bahu Lea, dan beberapa kali menepuknya dengan lembut.

“Listriknya masih nyala nggak?” tanya Dante.

“Harusnya masih. Saya masih bayar tagihan tiap bulan walau gak dipakai.”

“Oke, gue coba nyalain MCB-nya.”

Lihat selengkapnya