Paginya, Lea terbangun di kamar lamanya setelah cahaya matahari pagi jatuh tepat di wajahnya, seperti sedang menegurnya untuk bangun. Ia masih sedikit merasa aneh ketika mendapati dirinya bukan berada di kamar apartemennya, tapi lebih aneh lagi karena walaupun ia berada di rumah itu, tidak ada Ibunya yang dulu mengetuk pintu kamarnya di pagi hari untuk mengajak sarapan.
Ia berbaring sebentar, menatap langit-langit, mendengarkan suara-suara pagi—suara ayam tetangga yang berkokok telat, suara sapu lidi menyapu halaman, dan suara motor yang lewat perlahan.
Ia bangkit, melangkah keluar kamar, dan kakinya langsung membawanya ke dapur. Masih ada beberapa botol air mineral yang sengaja ia sediakan semalam, lalu ia meminum satu botol dengan tegukan panjang tanpa jeda. Saat sedang meneguk air itu, matanya sambil menyusuri seluruh dapur yang nampak lebih hidup setelah dibersihkan, dan saat itulah—tiba-tiba saja keinginan itu muncul. Ia ingin memasak di sana.
Ia buru-buru mengirimkan pesan kepada Dante tanpa banyak berpikir. “Dante, sepertinya hari ini saya akan mencoba masak di sini.” ia mengetik pesan itu dengan lancar tanpa menghapusnya kembali seperti yang biasa ia lakukan saat ragu.
Ia menatap layar itu beberapa detik, jantungnya berdegup cepat, seolah pesan itu adalah sebuah pengakuan yang jauh lebih besar daripada sekadar keinginan memasak di pagi hari.
Tiga puluh menit kemudian, Dante tiba di depan rumah Lea dengan rambut yang masih agak berantakan, seperti baru saja keluar dari kasur dan langsung berangkat tanpa sempat merapikan diri. Saat melangkahkan kakinya masuk, matanya menangkap Lea yang sudah berdiri di dapur sambil membereskan beberapa butir telur, sebotol kecap, dan satu liter minyak goreng yang ia beli dari warung, dua bungkus nasi putih dari warteg, serta beberapa jenis sayuran segar dan bumbu-bumbu masak dari pedagang sayur gerobak yang lewat di depan rumah.
Dante berhenti di ambang dapur, matanya bergerak dari wajah Lea ke bahan-bahan masakan itu, lalu kembali lagi ke wajah Lea, seolah sedang memastikan bahwa apa yang ia lihat benar-benar nyata.
“Ini serius? Bukan bercanda?”
“Iya, Dante. Saya serius.”
“Terus lu mau masak apa?”
“Kamu mau nasi goreng, nggak?” kata Lea, langsung tanpa jeda.
Dante mengangkat alis, seperti tidak menyangka pertanyaan itu keluar begitu ringan dari mulut Lea. Tapi pada akhirnya ia menjawab, “Boleh.” karena tidak tahu hal lain yang bisa dia katakan.
Beberapa menit kemudian, Dante akhirnya membantu Lea memasangkan tabung gas baru yang juga sudah dipesan Lea sebelumnya. Setelah tabung gas terpasang, Dante berdiri di depan kompor, memutar knop pemantik beberapa kali. Bunyi klik-klik kering terdengar berulang tanpa hasil, sampai akhirnya pada percobaan kelima, api kecil berwarna biru muncul dari tungku. Wajah Lea terlihat lega.
Lea pun akhirnya memulai apa yang harus ia lakukan. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya dalam hati, untuk menganggap bahwa ia hanya sedang memasak untuk Dante—sebagai kliennya, seperti biasa. Cara itu membuatnya merasa sedikit lebih ringan daripada harus terbebani dengan fakta bahwa ia akan memasak untuk dirinya sendiri setelah sekian lama. Kehadiran Dante di dekatnya sangat membantu untuk melancarkan skenario palsu yang ia ciptakan, namun ia tidak mengungkapkannya kepada Dante—dan hanya menahan senyuman sambil mempersiapkan bahan-bahan.
Tangannya memproses bawang-bawang dan rempah lain menjadi bumbu halus. Dante duduk di kursi dekat meja makan, memperhatikan Lea dari belakang. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali bertanya hal-hal kecil tentang Lea yang sebelumnya belum pernah ia tanyakan.
Lea menyalakan api sedang, kemudian menuang minyak ke atas wajan. Ia memecahkan dua butir butir telur ke pinggir wajan, memasukkan bumbu halus, lalu mendengarkan bunyi meriah yang muncul begitu mereka bertemu panas. Aroma telur yang bertemu dengan bumbu itu menjadi aroma pertama yang kembali membangunkan rumah itu setelah sekian lama.
Setelah telur dan bumbu itu tercampur, ia memasukkan nasi kemudian menekan-nekannya dengan spatula, dan membiarkan panas wajan memisahkan butir demi butirnya. Suara gesekan spatula dengan wajan terdengar begitu merdu di telinganya. Ia menambahkan sedikit kecap, garam, merica—takarannya tidak lagi ia ukur dengan sendok, melainkan dengan perkiraan yang muncul otomatis, karena tangannya masih menyimpan memori yang dulu diajarkan ibunya bertahun-tahun silam.
Terakhir, ia menyisihkan nasi itu ke dua piring lalu memecahkan dua butir telur baru, membiarkannya menjadi telur mata sapi dengan bagian kuning yang masih setengah matang dan pinggirannya renyah kecoklatan. Telur mata sapi itu kemudian diletakkan di atas masing-masing nasi yang sudah berwarna coklat dan berkilau disorot cahaya pagi.
Dengan hati-hati, Lea menaruh piring-piring itu di meja makan—satu di depan Dante, satu lagi di kursi seberangnya. Setelah itu ia mulai duduk di seberang Dante. Dante menatapnya tenang, dengan sabar menunggunya mencicipi lebih dulu.