Hari yang Indah untuk Makan Bersama

Widya Ma
Chapter #10

Hidup Kembali

Suatu sore, ponsel Lea bergetar dengan pesan dari Dante: “Lea, besok punya waktu? Kalau mau, besok ke pasar sama-sama yuk. Gue pengin bikin kolak pisang bareng lu. Lu bisa bantu gue milih bahannya kan?”

Dan seperti sudah seharusnya, pada pagi berikutnya, mereka berdua bertemu. Mereka menyusuri lapak-lapak di pasar—membeli pisang kepok, santan, gula merah, dan daun pandan, sambil menyiapkan berbagai macam gambaran akan momen-momen memasak yang akan mereka habiskan di dapur.

Setelah selesai membeli semua bahan kolak, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar menyusuri kawasan di sekitar pasar sebelum pulang. Matahari sudah mulai naik, menyinari deretan ruko dan rumah makan yang berdiri di sana.

Langkah Lea melambat ketika hampir melewati restoran Chinese Food yang dulu sering ia kunjungi bersama Ibu dan Ayahnya. Restoran itu masih berdiri di tempat yang sama seperti dulu. Bagian depannya hanya dihiasi spanduk sederhana bertuliskan Ahong 88 – Chinese Food, tapi tempat itu tidak pernah sepi.

Ia berhenti total, kakinya seperti terpaku di trotoar. Tiba-tiba saja, perasaan sendu yang sebelumnya ia pikir telah pergi hanya karena telah berani masak dan makan di rumahnya sendiri, ternyata kembali menyeruak—datang bukan sebagai gelombang besar yang menenggelamkan, melainkan seperti air pasang yang perlahan naik, membasahi kakinya sebelum ia sempat bersiap.

Ia teringat kwetiau goreng sapi—menu yang sama yang ingin ia makan pada hari terakhir orang tuanya masih hidup, menu yang seharusnya dimasak ibunya di rumah hari itu, menu yang selama lima tahun ini menjadi semacam luka kecil yang terabaikan karena sedang sibuk merawat luka yang lebih besar.

Ia sempat berpikir bahwa dengan memasak kembali bersama Dante, ia sudah cukup menemukan keberanian untuk berdamai dengan masa lalunya. Tapi ternyata keberanian itu tidak datang sekali untuk selamanya—ia harus tetap menghadapi hal-hal yang belum sepenuhnya ia hadapi. Bedanya kali ini, ia tidak merasa perlu lari. Ia bisa merasakan sesaknya, membiarkannya ada, tanpa harus dikuasai olehnya seperti dulu.

Ia menarik napas panjang, menatap Dante yang menunggu di sampingnya dengan sabar.

“Dante, mampir ke sini yuk.”

Dante mengikuti arah pandangan Lea ke restoran itu, lalu mengangguk tanpa banyak bertanya. “Mau makan di sini? Ayo, boleh.”

Lea memilih duduk di salah satu meja yang paling dekat dengan tempat memasak. Dari arah tempat itu, terdengar suara wajan besar yang bergesekan dengan spatula dan terlihat bahwa pemilik restoran itu sedang memasak menu untuk pelanggan yang lebih dulu datang. Lea mencium aroma tauco yang khas, bercampur dengan aroma jahe dan bawang putih. Hanya dari aroma itu saja, ia langsung tahu bahwa ini aroma kodok kuah tauco yang sedang dimasak.

Seorang perempuan paruh baya yang mengenakan celemek melihat ke arahnya dan Dante. Rambutnya diikat sederhana ke belakang. Ia berjalan mendekati meja mereka dan tiba-tiba matanya sedikit berbinar ketika bertemu dengan wajah Lea.

“Sepertinya dulu saya sering lihat kamu. Tapi sudah lama ya, tidak ke sini?”

Lea tersenyum kecil, sedikit terkejut karena masih diingat. “Iya, Tante. Sudah lama banget.”

“Mau pesan apa?”

“Kwetiau goreng sapi.” jawab Lea, spontan, seperti kalimat itu sudah lama menunggu untuk diucapkan.

“Kamu apa, Dante?” tanyanya pada Dante.

“Samain juga deh.”

Perempuan itu mengangguk, “Oke, kwetiau goreng sapi dua ya..”

Ia lekas berbalik menuju tempat memasak, langkahnya pelan namun mantap, seakan sudah terlalu terbiasa dengan rutinitas yang sama setiap harinya hingga tidak lagi menyisakan ruang untuk terburu-buru.

Tidak lama kemudian, perempuan itu kembali membawa dua piring kwetiau goreng yang masih mengepul menguarkan aroma kecap manis dan sedikit aroma arak masak yang menguar samar, khas masakan restoran Chinese food yang selalu dimasak dengan api besar. Helaian kwetiau itu dikelilingi potongan daging sapi yang empuk, taoge yang masih renyah, dan sayur hijau yang layunya pas. 

Ia meletakkan kedua piring itu di meja, namun tidak langsung berbalik pergi. Ia bertanya pada Lea, “Biasanya ke sini sama Mama Papa kan? Mereka gak ikut?”

Lihat selengkapnya