HARI YANG KAMU PILIH UNTUK MENGINGATKU (BAGIAN PERTAMA)

IGN Indra
Chapter #1

SATU

Udara di peron Stasiun Sudirman terasa berat malam ini, atmosfer Jakarta pekat oleh sisa-sisa kelelahan dari ribuan nyawa yang melintas sejak fajar tadi. Aku berdiri di belakang garis kuning yang mulai memudar, menatap rel yang berkilat perak di bawah siraman lampu merkuri yang berkedip payah. Di atas sana, langit tak lagi hitam, warna ungu yang memar—efek polusi yang memantulkan cahaya kota, membentuk kubah raksasa yang mengurung mimpi-mimpi kami.

Aku melirik ponsel dalam genggamanku. Jarum digital di layarnya menunjukkan angka yang sesaat berikutnya menjadi batas tipis antara hari ini dan esok. KRL terakhir adalah tempat bagi mereka yang dikalahkan oleh tenggat waktu, atau mungkin saja, mereka-mereka ini sejatinya tak memiliki alasan cukup kuat untuk pulang lebih awal.

Sebagai seorang copywriter, pekerjaanku setiap hari hanyalah merangkai kata-kata manis demi meyakinkan orang-orang bahwa mereka membutuhkan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka perlukan. Ironisnya malam ini, di hadapan keheningan stasiun, aku bahkan tidak mampu meyakinkan diriku sendiri bahwa aku merasa baik-baik saja. Ada kekosongan yang ganjil di dadaku, tak ubahnya untaian kalimat puitis yang diakhiri dengan koma tanpa ada satu pun kata yang mengikutinya.

Suara gemuruh terdengar dari kejauhan, getarannya merambat perlahan, bergetar melalui sol sepatuku, merambat naik hingga ke ulu hati. Cahaya lampu utama kereta membelah gelapnya terowongan, lambat laun membesar dan menelan bayanganku sendiri yang memanjang di atas peron. Kereta itu melambat dengan desis yang panjang serta terdengar letih, beriringan dengan helaan napas orang-orang yang menyerah pada beban dunia.

Pintu terbuka bersama suara mekanis yang dingin. Udara steril dari dalam gerbong menerpa wajahku, membawa serta aroma samar pembersih lantai dan keringat yang sudah mendingin. Aku melangkah masuk, dan di sanalah aku melihatnya. Di sanalah, di atas kursi dekat pintu, seorang perempuan duduk dengan kepala yang bersandar pada kaca jendela yang buram oleh embun AC.

Ia tampak seperti fragmen dari mimpi yang luput dihapus oleh pagi.

Aku mengambil posisi di kursi favoritku—tepat di dekat pintu gerbong. Dari sini, aku bisa melihat bayanganku sendiri dari kaca jendela, bertumpuk dengan lanskap Sudirman yang mulai berkelebat menjadi garis-garis neon yang buram saat kereta kembali melaju. Jakarta tepat jam sepuluh malam rupanya selalu persis sisa-sisa mimpi yang tak pernah berkesudahan.

Ada orang yang datang tanpa keinginan untuk tinggal, hanya ingin memastikan kamu tidak benar-benar sendirian.

Kalimat itu. Kalimat itu tiba-tiba saja melintasi kepalaku, bagai potongan dialog dari film lama yang tanpa sengaja terputar kembali di lapisan memoriku yang salah. Aku tidak tahu dari mana asalnya. Mungkin hanyalah mekanisme pertahanan diri dari kesepian yang sudah terlalu lama menetap di apartemen kecilku.

KRL tujuan Bogor ini tidak terlalu ramai. Hanya tampak beberapa orang yang tertidur dengan leher terkulai dan layar ponsel yang masih menyala di balik genggaman telapak tangan mereka, mengubahnya menjadi pemandangan tentang jarak. Jarak antara tubuh mereka yang ada di gerbong ini, serta pikiran mereka yang melayang entah ke mana melalui sinyal nirkabel.

Lihat selengkapnya