HARI YANG KAMU PILIH UNTUK MENGINGATKU (BAGIAN PERTAMA)

IGN Indra
Chapter #2

DUA

Ia bercerita bahwa ia adalah seorang ilustrator. Ia suka menggambar hal-hal yang akan segera menghilang, karena katanya, hanya dengan cara itulah sesuatu bisa menjadi kekal. Aku memperhatikannya bicara; tangannya sesekali menggerakkan kabel headset-nya dengan canggung. Saat itulah aku menyadari sebuah rahasia kecil, ia tidak benar-benar mendengarkan lagu apa pun. Headset itu hanyalah benteng, dinding yang demikian tinggi. Alasan agar dunia luar tidak pernah bisa mengganggunya.

"Sepi itu tidak selalu buruk," sahutnya pelan, menanggapi tatapanku. "Sepi adalah cara semesta memberi kita ruang untuk mendengar suara-suara yang biasanya tenggelam oleh kebisingan dunia. Seperti suara hatimu yang sedari tadi berteriak ingin lari, tapi kakimu tetap diam di sini."

Aku merasa telanjang di hadapannya. Perempuan ini. Perempuan yang baru saja kukenal selama sepuluh menit di atas besi tua yang melaju kencang, ia seperti memiliki kunci menuju gudang rahasia yang bahkan aku sendiri takut untuk membukanya. Kami berbicara tentang bagaimana kopi pahit di minimarket stasiun bisa terasa lebih jujur dibanding janji-janji manis yang terukir di media sosial. Tentang bagaimana Jakarta selalu tampak lebih cantik jika dilihat dari balik jendela yang bergerak, di mana segala kekurangannya—debu, kemacetan, dan keserakahan—disamarkan oleh kecepatan.

Kereta melambat saat memasuki Stasiun Cawang. Pengumuman otomatis menggema pada langit-langit gerbong, suara wanita yang terdengar dingin dan kaku, mengingatkan penumpang untuk tidak meninggalkan barang bawaan mereka. Aku merasa ada sesuatu yang sebenarnya jauh lebih berharga yang sedang dipertaruhkan di sini daripada sekadar tas atau payung.

Chintya masih menatap hujan yang kini membasahi kaca sepenuhnya. "Kamu tahu, Arga? Kadang-kadang aku merasa hidup kita mirip seperti perjalanan kereta ini. Kita melewati stasiun demi stasiun, bertemu banyak orang, tapi pada akhirnya kita semua hanyalah penumpang yang meminjam kursi untuk waktu yang sangat singkat."

Aku menoleh padanya. Di bawah cahaya lampu neon gerbong yang agak kekuningan, wajahnya tampak seperti lukisan cat air yang sedikit luntur oleh kesedihan.

"Kenapa kamu tahu banyak tentangku?" tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan dari kerapuhanku sendiri.

Ia menoleh, matanya yang besar dan bening menatapku dalam-dalam. "Aku tidak mengenalmu. Aku tidak pernah mengenalmu. Tapi aneh rasanya. Kamu seperti sudah lama hidup di kepalaku. Mungkin kita pernah bertemu dalam mimpi-mimpi yang pernah kita lupakan saat bangun pagi tadi. Atau mungkin saja, kita hanyalah dua potongan puzzle dari gambar yang berbeda, yang secara tidak sengaja dipaksakan untuk masuk ke dalam bingkai yang sama oleh takdir."

Metaforanya begitu liris, menciptakan perasaan keterhubungan yang tidak masuk akal meskipun terasa sangat nyata. Aku merasakan benang merah tipis yang tiba-tiba terikat di kelingkingku, menghubungkanku dengan Chintya di tengah Jakarta yang mati suri.

Aku melirik jam digital di atas pintu gerbong yang berkedip merah redup. 22:47.

Lihat selengkapnya