Hujan yang turun di Stasiun Pasar Minggu tadi nyatanya bukanlah sekadar sapaan yang kemudian berlalu. Saat aku melangkah keluar dari gerbong terakhir di stasiun tujuanku, udara malam menjadi handuk basah yang disampirkan di atas bahuku, rasanya berat dan dingin. Aku berdiri sebentar di peron, menatap lampu merah di ekor KRL yang perlahan menjauh, mengecil, hingga akhirnya tertelan oleh kelokan rel dan kegelapan malam.
Duniaku mendadak sunyi, menyisakan suara tetesan air dari atap seng peron yang jatuh menghantam lantai semen, menciptakan irama tak beraturan.
Aku merogoh saku celana, menyentuh pembatas buku yang ditinggalkannya. Kertas kecil itu terasa hangat, menyimpan sisa energi dari jemari perempuan itu. Aku tidak langsung pulang. Apartemenku yang berjarak sepuluh menit dengan ojek terasa begitu luas dan sepi untuk menampung riuh rendah pikiranku saat ini.
Langkah kakiku membawaku menuju minimarket satu-satunya yang masih menyala di sudut stasiun. Cahaya lampu flouresens berwarna putih tajam tampak seperti mercusuar di tengah lautan kegelapan urban. Pintu geser otomatis terbuka dengan bunyi ding-dong yang datar, menyambutku dengan hembusan udara AC yang kering dan bau roti murah yang dipanaskan.
Di sana, tepat di depan deretan lemari pendingin, aku melihatnya lagi.