HARI YANG KAMU PILIH UNTUK MENGINGATKU (BAGIAN PERTAMA)

IGN Indra
Chapter #4

EMPAT

Keheningan kembali merayap di antara kami, tapi kali ini bukan keheningan yang lebih mengintimidasi. Seperti keheningan di antara dua paragraf dalam novel yang sedang kami nikmati. Aku menatap cairan hitam di dalam cangkirku, menatap pantulan lampu minimarket yang bergoyang setiap kali meja ini tersenggol tanpa sengaja.

Aku tidak mengenalmu, tapi rasanya kamu sudah lama hidup di dalam kepalaku.

Kalimat itu terngiang kembali. Kedengarannya seperti baris dari naskah film Makoto Shinkai yang pernah kutonton, tentang dua orang yang terhubung melampaui ruang dan waktu. Namun di sini, di bawah cahaya putih yang jujur ini, kalimat itu terasa lebih seperti sebuah pengakuan yang sungguh terasa berat.

"Apa yang kamu lihat saat kamu menggambar hal-hal yang akan menghilang?" tanyanya tiba-tiba, memecah lamunanku.

Aku menatapnya, bingung. "Aku tidak menggambar. Aku menulis kata-kata yang sebenarnya kosong."

"Itu sama saja," ia menyahut cepat. "Kamu mencatat momen agar tidak lekas hilang. Tapi Arga, kamu tahu tidak? Hal paling indah dari sebuah kehilangan sebenarnya saat kita menyadari bahwa momen itu pernah ada. Seperti rintik hujan ini. Besok pagi, mereka menguap. Aspal ini kembali kering. Tapi fakta bahwa malam ini mereka jatuh, adalah sesuatu yang tidak bisa dihapus oleh siapa pun."

Ia membuka buku sakunya yang polos tadi. Di dalamnya, aku melihat sketsa-sketsa yang sangat halus—gambar kabel listrik yang ruwet di antara gedung, siluet orang di peron, dan... sebuah sketsa wajah yang tampak familiar.

Lihat selengkapnya