HARI YANG KAMU PILIH UNTUK MENGINGATKU (BAGIAN PERTAMA)

IGN Indra
Chapter #5

LIMA

Kamar kosku di lantai dua selalu terasa dua derajat lebih dingin daripada suhu Jakarta di luar sana. Mungkin karena tumpukan kanvas yang menutupi ventilasi, atau mungkin karena terlampau banyak sketsa hitam-putih yang menyerap cahaya lampu.

Aku melempar tas ke atas kasur yang spreinya sudah kusut—spreiku bermotif bunga-bunga kecil yang memudar, bagaikan sisa-sisa ingatan masa kecil yang perlahan kehilangan warnanya. Jam dinding berdetak. Tik. Tik. Tik. Suara itu terdengar sangat keras malam ini, bersaing dengan sisa-sisa suara hujan yang menetes dari talang air tetangga.

Aku duduk di atas lantai kayu, menyandarkan punggung pada kaki meja kerja. Di tanganku, buku sketsa kecil itu masih terbuka.

Halaman 47. Sketsa wajah seorang laki-laki di dalam gerbong kereta.

Garis-garis pensilku kasar, dibuat dengan tergesa-gesa karena guncangan gerbong, tapi aku berhasil menangkap matanya. Mata itu... mata milik seseorang yang sedang mencari pintu darurat di dalam hidupnya sendiri.

Namanya Arga.

Arga Pratama. Nama yang terdengar kokoh, seperti gunung atau pilar beton, tapi pemiliknya rapuh seperti kaca jendela yang punya ribuan retakan.

Lihat selengkapnya