Aku beranjak, berjalan mendekati jendela kamar, menyibakkan tirai tipis yang berdebu. Dari sini, aku bisa melihat pemandangan kota di ketinggian lantai dua. Kabel-kabel listrik yang semrawut memotong bulan yang pucat. Di kejauhan, lampu merah dari menara seluler berkedip teratur.
Dunia ini begitu bising, terlampau sesak, tapi kenapa rasanya sangat kosong?
Tiba-tiba saja aku teringat percakapan kami di kereta. Arga bilang dia seorang copywriter. Penjual kata-kata. Sungguh ironis. Ia bisa saja merangkai kalimat untuk menjual sampo atau apartemen mewah, namun dia tidak mampu merangkai satu kalimat pun untuk menjelaskan kenapa dia terlihat begitu kesepian.
Aku menyukai ironi itu. Membuatku merasa tidak lagi sendirian menjadi manusia yang kontradiktif. Aku, seorang ilustrator yang menggambar keabadian, padahal aku sendiri tidak percaya pada hari esok.
Aku kembali duduk di meja kerja. Di hadapanku, terlihat tumpukan tagihan, botol obat tidur yang labelnya kusobek setengah, dan sebuah cutter berkarat yang sudah lama tidak kupakai—benda-benda yang menjadi monumen kecil dari keputusasaanku. Malam ini, aku menggeser semuanya ke tepi meja. Aku ingin memberi ruang untuk ingatan tentang Arga.
Aku membuka halaman baru di buku harianku. Pena bertinta hitam menari di atas kertas putih yang menyilaukan di bawah lampu meja.
Ada jenis kesedihan yang bentuknya seperti gas. Tak terlihat, pun berbau, tapi memenuhi ruangan sampai kita tak lagi sanggup bernapas. Aku melihat gas itu mengelilingi Arga. Ia mencoba mengibaskannya dengan bekerja keras, menjadi sukses, serta tinggal di apartemen bagus. Tapi ia lupa, gas itu ternyata berasal dari dalam dirinya sendiri.
Aku tersenyum miris. Terdengar sok bijak. Padahal, aku sendiri sedang tenggelam perlahan.