Tiga hari berlalu lebih cepat, Jakarta kembali menjadi monster yang menelan kewarasanku perlahan-lahan.
Di kantor agensi yang terletak di lantai 30 sebuah gedung kaca di SCBD, aku duduk menatap kursor yang berkedip di layar MacBook. Di sekelilingku, suara keyboard beradu dengan percakapan tentang engagement rate, impression, dan algoritma. Rekan kerjaku dari meja sebelah melemparkan tertawa palsu saat menelepon klien, sementara notifikasi Slack di layar pojok kanan terus bermunculan seperti hama yang tak mau pergi.
"Ga, copy untuk kampanye kopi susu kekinian sudah siap belum? Klien minta tone-nya yang relate sama anak senja tapi nggak cringe," tanya Sarah, Account Executive yang meja kerjanya penuh dengan tumpukan kertas dan gelas plastik sisa kemarin.
"Sedang kuserut," jawabku pendek, tanpa menoleh.
Aku mengetik beberapa kata.
Kopi yang mengerti sepi harimu.
Kemudian menghapusnya.
Kemudian mengetik lagi.
Teman terbaik saat dunia terlalu berisik.
Kemudian menghapusnya lagi.
Semua kata-kata ini terasa hampa. Sekaku plastik. Palsu. Pikiranku benar-benar tidak sedang berada di sini. Tertinggal di atas kursi plastik minimarket stasiun, pada jejak embun berbentuk lingkaran yang sudah lama menguap.