HARI YANG KAMU PILIH UNTUK MENGINGATKU (BAGIAN PERTAMA)

IGN Indra
Chapter #8

DELAPAN

Aku merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel pintarku. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi yang tak ingin kupedulikan.

"Aku tidak mau kehilanganmu lagi seperti hantu. Boleh aku minta nomor WhatsApp-mu? Atau akun Instagram-mu. Atau setidaknya namamu?"

Pertanyaan itu datang dari standar seorang manusia modern. Perilaku pengikatan diri di abad 21. Jika kita ingin mengenal seseorang, sudah selayaknya kita ingin memiliki akses apapun, terutama digital, yang membawa ke kehidupan mereka lebih dalam. Kita harus bisa melihat apa yang mereka makan siang ini, lagu apa yang mereka dengarkan di platform musik, dan di mana mereka menghabiskan liburan tahun lalu.

Tapi perempuan itu menatap ponselku dengan tatapan aneh. Tatapannya pencampuran antara rasa jijik dan kasihan.

Dia menggeleng pelan. "Jangan, Arga."

"Kenapa?" Aku bingung. "Bagaimana caranya kita berkomunikasi? Bagaimana aku tahu kamu ada di mana?"

Ia memutar tubuhnya menghadapku sepenuhnya. Tangannya menyentuh punggung tanganku yang memegang ponsel, menurunkan benda bercahaya itu hingga layarnya menghadap ke arah meja. Kemudian mati.

"Dengar," katanya lembut. "Begitu aku masuk ke dalam daftar kontak di ponselmu, aku akan berubah."

"Berubah bagaimana?"

"Aku akan berubah menjadi data. Aku menjadi sekadar baris nama di antara kontak tukang ojek, bosmu yang menyebalkan, dan promo restoran cepat saji. Aku hanya menjadi notifikasi yang bisa kamu swipe ke kiri saat kamu sedang sibuk. Keajaiban pertemuan kita akan hilang, tergantikan oleh kewajiban untuk membalas pesan dalam lima menit."

Kata-katanya menohokku. Dirinya benar. Di duniaku, orang-orang di dalam ponsel hanyalah aset. Mereka akan ada hanya saat dibutuhkan, dan diabaikan saat tak lagi relevan.

Lihat selengkapnya