HARI YANG KAMU PILIH UNTUK MENGINGATKU (BAGIAN PERTAMA)

IGN Indra
Chapter #9

SEMBILAN

Jumat datang dengan langkah yang berat, menyeret sisa-sisa kelelahan dari Senin hingga Kamis di punggungnya.

Di Jakarta, Jumat malam merupakan perayaan kecil bagi para pekerja kerah putih, jeda napas sebelum mereka kembali tenggelam dalam siklus yang sama minggu depan.

Di kantorku, semua orang sibuk merencanakan Instagram Story mereka. Sarah sedang memotret gelas cocktail dengan angle yang sudah diperhitungkan agar terlihat effortless. Bima sedang mengedit video pendek perjalanannya ke kantor untuk konten TikTok. Mereka semua berlomba-lomba membuktikan bahwa hidup mereka seru, estetik, dan layak ditonton.

Aku duduk di meja kerjaku, menatap layar ponsel yang gelap.

Selama seminggu ini, aku telah melakukan dosa kecil yang mungkin dilakukan oleh setiap laki-laki modern yang baru jatuh hati, mencoba untuk melacak jejak digital perempuan itu.

Hasilnya nihil.

Aku mencoba mencari tagar yang relevan di Instagram. Kemudian menelusuri LinkedIn, bahkan mengecek platform portofolio seni seperti Behance.

Tetap kosong.

Perempuan itu seperti hantu yang tidak terdeteksi oleh radar satelit. Di zaman di mana kucing peliharaan pun memiliki akun media sosial, ketiadaan jejak digital rasanya seperti sebuah anomali. Kejanggalan yang seharusnya membuatku curiga, sebaliknya, justru membuatku merasa menemukan harta karun.

Pukul delapan malam, aku meninggalkan kantor. Aku menolak ajakan teman-teman untuk happy hour di Senopati. Aku punya janji yang jauh lebih penting. Janji yang tertulis di atas selembar tisu makan yang kini kulaminating dengan selotip bening agar tidak rusak.

Lihat selengkapnya