HARI YANG KAMU PILIH UNTUK MENGINGATKU (BAGIAN PERTAMA)

IGN Indra
Chapter #10

SEPULUH

"Kenapa?" tanyaku akhirnya, memecah keheningan di antara kami. "Kenapa kamu memilih untuk tidak ada di sana? Tidak ada Instagram, tidak ada Twitter. Kamu seorang ilustrator. Bukankah kamu butuh panggung?"

Ia memainkan ujung kabel headset-nya. Gerakan itu, aku mulai hafal, tak lain menjadi tanda bahwa dia sedang berpikir keras atau sedang gugup.

"Dulu aku punya," akunya. "Dulu aku sama seperti mereka. Memposting setiap sketsa, menunggu like, merasa cemas kalau engagement turun. Aku mulai menggambar bukan karena aku ingin merekam momen, tapi karena aku ingin divalidasi oleh orang asing."

Ia menunjuk seorang remaja perempuan di kursi prioritas yang sedang sibuk berswafoto dengan berbagai filter.

"Lihat dia. Cantik, tapi dia butuh filter telinga kucing untuk merasa cukup percaya diri memposting wajahnya. Media sosial itu... memangkas realitas, Arga. Memotong bagian-bagian yang tidak estetik—kesedihan, kebosanan, kegagalan—dan hanya menyisakan sorotan utama yang sudah diedit."

Aku mendengarkan, terpesona. Tak hanya pada argumennya, juga pada cara ia menyampaikannya. Suaranya tenang, tapi penuh dengan keyakinan yang lahir dari luka.

"Lalu suatu hari," lanjutnya, "aku sadar aku mulai melupakan rasa kopi yang kuminum karena terlalu sibuk memotretnya. Aku lupa warna langit sore karena sibuk mencari filter yang pas. Aku kehilangan rasa sekarang demi rasa nanti di feed."

Kereta berguncang keras saat melintasi wesel Stasiun Pasar Minggu Baru. Ia kehilangan keseimbangan sedikit, dan refleks tanganku menangkap sikunya.

Kulitnya hangat. Sangat nyata.

Kontras dengan dinginnya tiang besi kereta yang kupegang sebelumnya. Ada aliran listrik statis yang merambat dari sentuhan itu, membangunkan saraf-saraf yang sudah lama mati rasa.

Ia tidak menarik tangannya, melainkan membiarkanku memeganginya sampai kereta kembali stabil.

"Jadi aku menghapus semuanya," katanya, menatap tepat ke arah mataku. Jarak wajah kami hanya terpaut beberapa sentimeter. Aku bisa mencium aroma vanili itu lagi, kali ini bercampur dengan aroma hujan yang menempel di jaketnya.

"Aku memutuskan untuk hidup secara offline. Aku ingin diingat karena interaksi nyata, bukan karena foto profil yang bagus. Aku ingin, jika suatu hari nanti aku hilang, orang-orang mencariku di dalam ingatan mereka, bukan di server."

Kalimatnya benar-benar menghantamku.

Lihat selengkapnya