BATAVIA, 1799
Hujan mengguyur pelabuhan Batavia sejak senja. Di dermaga, nyala obor resin berliuk-liuk liar, diterpa angin laut yang membawa bau garam dan amis lumpur teluk.
Deru sepatu bot berhantaman keras dengan papan titian kayu. Para serdadu VOC berlari dalam formasi longgar, senapan flintlock tergenggam erat di tangan yang basah oleh air hujan. Di tengah gelap malam, lambung kapal merapat ke dermaga. Layarnya robek menjadi jerami kain yang menggantung di tiang-tiang patah. Lambungnya penuh bekas hantaman karang dan hantaman tumpul seperti baru saja lolos dari amukan badai atau pertempuran brutal di lautan lepas.
Keheningan di atas dek kapal jauh lebih pekat daripada suara badai.
"Manifestonya!" bentak seorang pejabat pelabuhan.
Seorang juru tulis tergesa membuka gulungan perkamen yang mulai lembap oleh tempias hujan. Matanya bergerak cepat menyusuri deretan tinta.
"Dua ribu tiga ratus peti rempah pilihan... delapan puluh peti timah berisi gulden... dan persediaan logistik untuk pelayaran enam bulan, Tuan."
Pejabat itu mengangkat lenteranya tinggi-tinggi, menyapu geladak kapal yang kosong melompong.
Para pejabat pelabuhan berdiri dengan lentera di tangan, menghitung kepala para awak yang turun satu per satu. Jumlah mereka berkurang separuh. Semua yang selamat menyeret kaki dengan pundak merosot, pandangan terpaku lurus ke papan kayu basah. Tak seorang pun berani mengangkat muka atau menatap lampu lentera para petinggi Kompeni.
Seorang pejabat pelabuhan melangkah maju, suaranya tercekat di tenggorokan saat menatap dek yang kosong melompong. Para awak kapal berdiri dalam bisu.
Para awak yang selamat dipisahkan satu per satu. Sebagian digiring menuju barak penjagaan. Sebagian lagi diseret menuruni tangga batu menuju ruang interogasi bawah tanah. Hujan masih turun tanpa tanda akan reda.
Di dalam ruang interogasi bawah tanah, dinding batu andesit memantulkan bau lembap dan keringat dingin. Sebuah meja kayu kasar diterangi satu batang lilin tallow yang meleleh tidak beraturan.
Seorang awak kapal duduk terikat di kursi kayu. Kedua pergelangan tangannya dibelit tali rami yang mulai basah oleh darah. Napasnya memburu, setiap embusan terdengar berat di antara sunyi ruang batu.
Seorang interogator berdiri di hadapannya, meletakkan kedua telapak tangan di atas meja.
"Di mana muatan itu?"
Awak kapal mengangkat wajah perlahan. Bibirnya pecah-pecah bergerak nyaris tanpa suara. Tak ada sepatah kata pun keluar.
Tinju kembali menghantam rahangnya. Kursi kayu bergeser kasar di atas lantai batu. Kepala awak kapal terpelanting ke samping, lalu kembali tegak dengan susah payah. Darah menetes dari sudut bibirnya, jatuh satu per satu ke lantai.
Interogator menarik napas panjang. "Aku akan bertanya sekali lagi." Ia membungkuk hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa jengkal. "Di mana muatan itu?"
Kelopak mata awak kapal terpejam sesaat. Ia hanya menggeleng pelan.
Interogator melirik dua serdadu di belakangnya. Mereka maju tanpa diperintah.
Suara pukulan, benturan kursi, dan erangan tertahan bergema di ruangan lembap itu, lalu kembali ditelan sunyi.