HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #2

1. ILMU BUDAYA

Aroma minyak kelapa panas bercampur wangi tembakau lintingan mengepul dari gerobak gorengan di ujung gerbang Fakultas Ilmu Budaya. Suara deru knalpot racing beradu dengan gelak tawa mahasiswa yang berlarian menaiki tangga. Di bawah pohon angsana, seorang gadis tingkat akhir membagikan pamflet teater kampus, di sudut selasar, dua orang mahasiswa tingkat awal sibuk menyetem gitar akustik.

Di ujung anak tangga paling atas, Almaz duduk bersila. Jari-jarinya membalik lembaran kertas HVS penuh coretan stabilo kuning terang. Ia menatap lurus sampul tumpukan kertas. judul

THE LOST COLONY OF ROANOKE terpantul di pupil matanya. Dahinya berkerut dalam membaca judul,

Di sekelilingnya, arus mahasiswa bergeser ke kiri dan ke kanan, mengabaikannya yang duduk terpaku bagai batu karang di tengah sungai.

Seorang mahasiswa berjas almamater lewat sambil menepuk pundaknya sekilas. "Mas... kelas mulai."

"Iya." Almaz masih menatap tumpukan kertas di pangkuannya.

Mahasiswa itu berlalu meninggalkan Almaz.

Dari arah bawah, dua mahasiswa berlari tergesa nyaris menyenggol bahunya. Seorang di antaranya meminta maaf tanpa berhenti. Almaz tidak mengangkat kepala. Ujung jempolnya tetap menyusuri baris demi baris tulisan yang sudah dipenuhi garis stabilo dan catatan kecil di pinggir kertas.

Seorang mahasiswi berhenti beberapa anak tangga di bawahnya, mengangkat ponsel lalu memotret poster acara fakultas yang terpajang di papan pengumuman. Tanpa sengaja kamera ponselnya ikut menangkap sosok Almaz yang masih duduk mematung.

"Itu anak yang kemarin nyari bunker Jepang, kan?" bisiknya pada temannya.

"Yang katanya mau nemuin arsip Belanda?"

"Iya."

"Gigih ya."

Keduanya terkikik pelan sebelum berlalu.

Lima menit kemudian, Almaz masih berada di posisi yang sama, jempolnya menggaris pinggiran kertas yang mulai kusut.

BUK.

Sebuah tas ransel tebal dijatuhkan tepat di sebelah paha Almaz. Tas ransel menganga, beberapa buku tebal berjudul Sejarah Hindia Belanda, Arsip VOC, dan Metodologi Penelitian Sejarah menyembul keluar.

Almaz melirik sekilas. "Lo pinjem perpustakaan apa pindahan rumah?"

"Minimal buku gue ada ISBN." Abde mengembuskan napas panjang. Keringat di pelipisnya belum mengering setelah berlari dari parkiran.

Abse melirik jam tangan, lalu kembali menatap Almaz. "Lo sadar nggak sekarang hari apa?"

Almaz mengangguk asal. "Selasa."

"Tau jam berapa?"

"Masih pagi."

Abde memejamkan mata sesaat. "Lo emang layak telat lulus." Ia menyambar tumpukan kertas di pangkuan Almaz. "Lo baca beginian lagi?"

Almaz meraih kertas itu dari tangan Abde, merapikan lagi tanpa emosi. "Ini riset."

"Ini forum internet, Maz."

"Forum juga sumber."

"Bukan sumber sejarah."

"Siapa bilang gue lagi nyari sejarah?" Almaz menggeser duduknya sedikit.

Abde mengeluarkan sebatang rokok dari saku. kemejanya.

Lihat selengkapnya