HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #3

2. ARSIP

Sepatu kets mereka berderit di atas paving blok yang disapu bayangan daun mahoni. Seorang mahasiswi mengebut dengan sepeda lipat sambil menyumpah karena hampir menabrak tiang bendera, sementara sekelompok anak semester tiga berdebat sengit soal bab metodologi riset sambil berjalan cepat membawa papan jalan.

"Kalau Indonesia..." Almaz masih memegang fotokopian Roanoke di tangannya. "...Yang paling sering dibahas sih Atlantis Sunda. Katanya letaknya di antara Jawa dan Sumatera."

Abde mendengus. "Benua Sunda sama Atlantis itu dua hal yang beda jauh, Maz. Yang satu teori geologis dataran yang tenggelam, satu lagi dongeng Plato. Jangan dicampur-campur kayak bikin es campur."

"Ya makanya kita cari, buktinya ada apa nggak," balas Almaz.

"Bukan mitologi." Xavier menyedot sisa es kopi kotaknya, lalu menggeleng pelan. "Yang kita cari itu yang beneran ada, yang ada jejaknya. Yang kalau kita gali, kita nggak keliatan kayak orang bego yang nyari hantu penasaran."

Suara bising mahasiswa berangsur-angsur melemah begitu mereka membelok ke area timur kampus. Deru motor di jalan raya tertelan barisan pohon cemara yang rimbun.

Mereka berhenti di depan bangunan tua berarsitektur art deco kolonial. Pilar-pilar semen setinggi empat meter menopang teras depan yang teduh, cat putih aslinya sudah mengelupas di beberapa sudut.

Abde merapikan kerah kemejanya, matanya menatap relief lambang di atas pintu utama.

"Gedung ini dibangun awal abad dua puluh," kata Abde setengah berbisik, nadanya berubah mirip pemandu museum swadaya. "Dulu, waktu zaman transisi, koleksi arsip administratif kolonial sempat numpuk di sini sebelum sebagian besar diangkut ke Arsip Nasional. Strukturnya dirancang tahan gempa tropis."

Almaz melangkah mendekati dinding luar, jemarinya meraba permukaan batu yang dingin, lalu mengamati kusen jendela kayu jati tua yang terkunci rapat dari dalam.

Xavier melangkah mendahului mereka berdua, tangan kanannya memegang gagang pintu besi tempa yang berat. Ia menoleh ke belakang, menatap dua temannya.

"Kalau lima menit lagi kalian masih debat soal arsitektur kolonial dan beban fondasi," kata Xavier datar, "gue tinggal ke kantin."

Ia mendorong pintu. Engsel tua itu berderit panjang, menyambut mereka dengan embusan udara dingin beraroma kertas tua dan disinfektan.

Di dalam, ruang katalog utama diselimuti keheningan yang hanya diisi dengung halus pendingin ruangan sentral dan bunyi ketukan keyboard dari meja petugas di sudut ruangan.

Abde melangkah maju ke salah satu komputer pencarian pencarian arsip kampus. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik. Ia mengetik kata pencarian VOC Belanda Kompeni Hindia.

Layar monitor berkedip. Barisan teks bergulir cepat, menampilkan ratusan hasil arsip digital dari dokumen-dokumen abad ke-18 hingga catatan harian pejabat bumiputera era tanam paksa.

Xavier melipat tangan di dada, mendesah berat saat melihat tumpukan teks hijau di layar. "Serius? Sebanyak ini? Kalau dibaca lembar per lembar sampai kita wisuda juga nggak bakal selesai."

"Makanya sejarah nggak selesai dibaca seumur hidup, Xav. Makanya otak lo jangan dipakai buat mikirin sejarah kopi mulu," sahut Abde tanpa menoleh.

Di sebelah mereka, Almaz menatap papan pengumuman kecil berlapis kaca di dekat meja arsip. Di bawah kategori peminjaman umum, ia membaca satu sub-bagian yang dicetak tebal.

KOLEKSI KHUSUS ARSIP SEJARAH LOKAL - HANYA BACA DI TEMPAT. TIDAK UNTUK DIBAWA PULANG.

Almaz menepuk pundak Abde, menunjuk tulisan itu.

Seorang pria paruh baya berkacamata tebal, Pak Darma, mendongak dari balik tumpukan buku besar, ia menghela napas panjang sambil tersenyum geli.

"Kalian lagi." Suara pak Darma terdengar pasrah. "Minggu lalu kalian nyari peta bunker Jepang di bukit belakang. Dua minggu lalu ngotot mau lihat denah ruang bawah tanah bekas loji di kota lama. Sekarang apa lagi?"

Lihat selengkapnya