HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #4

3. TANAH SURGA

Uap air hangat bercampur bau garam laut dan cengkeh segar menyergap rongga dadaku begitu sepatu bot kulitku menjejakkan lantai dermaga Pelabuhan Batavia. Di sekelilingku, hiruk-pikuk pelabuhan bergemuruh tanpa jeda. Buruh pribumi bertelanjang dada mengangkat peti-peti kayu berat ke atas geladak sekoci, sementara para pedagang Arab bergamis putih dan saudagar Tionghoa berkerudung kain linen tawar-menawar dengan suara melengking dalam berbagai dialek yang asing di telingaku.

Burung-burung camar melengking tinggi di langit kelabu yang mulai disapu terik matahari tropis. Bau asap dapur dari perumahan bambu di tepi kanal berpadu dengan aroma lumpur rawa dan getah kayu basah.

Topi segitigaku terlepas dari kepala dan menggantung di tangan. Entah sejak kapan aku berhenti melangkah.

Di kapal, selama berbulan-bulan aku dijejali kisah tentang tanah jajahan. Negeri liar yang dipenuhi rawa mematikan, pemberontak, dan orang-orang yang hanya tunduk karena laras senapan.

Beberapa langkah di hadapanku, seorang anak kecil pribumi berlari mengejar bola kayu sambil tertawa lepas, dikejar oleh ibunya yang mengenakan kebaya pudar dan kain batik corak cokelat tua. Di sudut lain, seorang serdadu tua berkulit pucat tampak duduk tenang berbagi segelas air kelapa muda dengan seorang buruh pelabuhan lokal.

Tak satu pun menyerupai gambaran yang selama ini kutelan mentah-mentah.

Seorang perwira senior berompi tebal dan berwajah letih menghampiriku, mengisap cerutu basah di sudut bibirnya.

"Selamat datang di Batavia, Kolonel Hendrick," kata perwira itu, menepuk pundakku pelan. "Jaga kesehatan paru-parumu. Demam di sini tidak pandang bulu, dan kuburan di belakang benteng selalu punya tempat kosong."

Aku menatap lurus ke kerumunan orang-orang yang sibuk dengan kehidupan mereka, lalu menoleh ke arah perwira itu. "Apakah... apakah semua orang di sini hidup seperti ini?"

Perwira senior itu mendengus pendek, mengeluarkan kepulan asap tipis dari mulutnya. "Kau akan segera berhenti memperhatikan mereka, Kolonel."

Di sudut geladak kapal yang mulai sepi, aku duduk di atas sebuah tong kayu kosong, membuka buku catatan bersampul kulit domba di atas lututku.

...Aku datang dengan kepala yang dipenuhi cerita tentang negeri liar dan penuh mara bahaya. Yang kutemukan justru manusia-manusia yang tersenyum kepada orang asing, dan anak-anak yang berlari tanpa beban di bawah terik matahari...

...Aku belum pernah mencium udara seperti ini. Bahkan hujan di negeri ini memiliki aroma. Campuran tanah basah, pala, dan rempah yang mengalir di setiap embusan angin...

Pandanganku terangkat sesaat, melihat seorang gadis kecil memberikan sepotong kue tradisional kepada seorang pengemis tua yang tertidur di bawah payung jerami. Hal sederhana. Tanpa pamrih. Namun pemandangan itu menancap dalam di benakku.

Aku kembali menunduk, melanjutkan tulisannya dengan tarikan napas panjang.

...Jika beginilah rupa tanah jajahan ... maka mungkin selama ini kami diajarkan melihat negeri yang salah...

Suara dengung konstan lampu neon tua di gudang arsip memotong lamunan Almaz.

Halaman diary itu berhenti bergerak.

Bau garam, cengkeh, dan kayu basah perlahan menghilang, berganti dengan aroma kertas tua, debu, dan pendingin ruangan yang terlalu dingin.

Almaz berkedip pelan, ia duduk bersila di lantai semen beralaskan tumpukan kotak koran, lembar demi lembar catatan kulit domba itu terbuka di pangkuannya.

Abde melirik dari balik tumpukan meja kayu, matanya menyipit melihat ekspresi datar di wajah Almaz. "Gimana?"

Lihat selengkapnya