HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #5

4. JURNAL

Lampu neon oranye di langit-langit berdengung konstan, bayangan panjang dari rak-rak besi setinggi empat meter menutupi kotak kardus dan peti kayu berdebu. Aroma kertas tua, lem kanji abad lampau, dan kayu lapuk bercampur di udara.

Almaz, Abde dan Xvier duduk melingkar di atas lantai beralaskan selembar terpal plastik tipis yang ditemukan Abde di sudut gudang. Jurnal log ekspedisi bersampul kanvas kasar terbuka lebar di tengah lingkaran mereka.

Abde membungkuk, ujung hidungnya nyaris menyentuh baris-baris tulisan tangan bergaya copperplate yang meliuk-liuk rapi. Jemarinya gemetar bergerak mengikui baris demi baris.

Xavier menatap lurus wajah Abde. "Emang lo ngerti bahasa Belanda?"

"Nggak, makanya gue nyari tulisan yang ada bahasa Indonesia. Siapa tau ada yang udah pernah terjemahin."

"Goblog." Xavier mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia menarik jurnal dari tangan Abde lalu memotretnya. "Pake ini bego. Jaman udah canggih." Ia menyodorkan ponselnya ke hadapan Abde.

"Anjay terjemahin pake AI." Abde membaca terjemahan log dari layar ponsel Xavier. "Log pelayaran. Minggu pertama keberangkatan dari pelabuhan di lepas pantai Batavia menuju arah timur. Jumlah awak tercatat seratus delapan puluh orang. Rincian muatannya rempah hasil panen, beras, bubuk mesiu, peti-peti tembaga, dan... logistik makanan untuk enam bulan."

Abde membalik halaman perlahan, lalu memotret kembali. "Kecepatan angin dicatat setiap empat jam sekali. Posisi lintang diperbarui berdasarkan posisi matahari. Catatan harian kapten... cuaca buruk di Selat Sunda, kehilangan dua sekoci akibat hantaman ombak besar pada tanggal dua belas..."

Abde terus menggeser halaman demi halaman di bawah kamera ponsel. Terjemahan yang muncul hampir selalu sama. Angka, cuaca, jumlah barel, nama awak kapal dan jadwal jaga malam.

Xavier menguap lebar. "Gue rasa kalau hidup jadi kapten VOC isinya cuma ngitung beras sama ombak."

"Justru itu gunanya buku log," gumam Abde tanpa mengalihkan pandangan. "Buku beginian harusnya ngebosenin."

"Kenapa?"

"Kalau tiba-tiba menarik..." Abde mengangkat wajahnya. "...berarti ada sesuatu yang nggak semestinya ditulis."

Xavier duduk bersandar di tumpukan kotak arsip di belakangnya, membuang napas panjang lewat mulut. Ia melipat kedua tangan di dada. "Gue nggak ngerti apa menariknya dari daftar belanjaan dan laporan cuaca pelaut mati dua abad lalu. Sebelah alisnya terangkat menatap Abde.

Abde mendongak, menatap tajam mata Xavier. "Ini asli, Goblok," nada suaranya tertahan. "Arsip kayak gini bukan cuma sekadar bacaan sejarah. Data navigasi kalau di-cross-check sama catatan VOC di Arsip Nasional, bisa jadi bahan disertasi S3. Lo nggak paham nilainya karena otak lo cuma buat mikirin sejarah kopi."

Almaz mendekatkan wajahnya ke sisi samping jilid buku log tersebut. Jemarinya bergerak pelan, meraba pinggiran halaman demi halaman.

Xavier melirik ke arah Almaz, keningnya berkerut. "Lo malah ngapain, Maz? Ikutan pusing baca bahasa Belanda purba?"

"Diam," jawab Almaz singkat, tanpa menoleh.

Almaz menggeser ibu jarinya lambat, menyusuri tepi luar lembaran kertas yang menguning.

Ibu jarinya berhenti di sepertiga bagian tengah buku. Dahinya mengerutkan, ia menunduk lebih dekat, menatap deretan nomor halaman yang tercetak di pojok kanan atas dengan tinta hitam pudar.

112... 113... 114...

118.

Almaz membalik kembali ke halaman sebelumnya perlahan, menghitung ulang angka-angka kecil di sudut kertas.

"De..." panggil Almaz.

Abde beralih ke jurnal lain, jari telunjuknya menunjuk lembaran kertas. "Hm? Bentar, ini ada catatan soal lain-"

"De, lihat sini sebentar."

Abde mendengus pelan, mengalihkan pandangannya. "Apa lagi? Jangan bilang lo nemu teori konspirasi alien di buku log logistik."

Lihat selengkapnya