Koridor Gedung Fakultas Ilmu Budaya sore hari lebih lenggang, Almaz, Abde dan Xavier berjalan pelan menyurusi koridor. Langkah mereka bergema pelan di sepanjang koridor yang mulai sepi. Di ujung lorong, pintu kayu berukir jati tua berdiri tertutup.
Abde menepuk-nepuk map plastik yang dijepit di bawah lengannya. "Gue tetap bilang kita langsung tunjukin bagian halaman yang hilang. Jangan muter-muter."
"Jangan." Almaz menggeleng. "Biar beliau lihat sendiri."
"Kalau beliau nggak sadar?"
"Pak Broto bukan dosen semester satu."
Xavier mendecak pelan. "Kalian berdua lupa satu hal."
"Apa?"
"Kalau ternyata ini cuma kesalahan penjilidan, kita bakal kelihatan kayak tiga orang yang nyeret dosen cuma buat nunjukin buku rusak."
Abde mendengus. "Kalau cuma salah jilid, tinta itu jelasinnya gimana?"
"Belum tentu tintanya beda."
"Barusan lo juga lihat."
"Gue lihat warnanya beda. Gue nggak bilang artinya sama kayak yang ada di kepala kalian."
Almaz tetap melangkah tanpa menoleh. "Makanya kita ke Pak Broto."
Langkah mereka terhenti di depan pintu kayu berukir jati tua di ujung koridor. Almaz mengtuk pelan pintu kayu lalu mendorong perlahan, udara sejuk, lembap, dan dipenuhi aroma khas kertas cetakan baru berpadu dengan wangi biji kopi tubruk yang diseduh di sudut ruangan.
Rak-rak kayu berjejer sepanjang dinding di ruang dosen di lantai dua, penuh sesak buku-buku tebal, beberapa diantaranya terselip map plastik menggembung berisi fotokopian yang tidak pernah sempat dibaca ulang. Peta topografi Hindia Belanda berukuran besar dibentangkan di dinding menggunakan paku payung di setiap sisinya. Di rak kecil dekat jendelan, sebuah bingkai foto berisi foto perempuan tersenyum lebar, mengapit tiga ekor anak kucing yang menolak tertib saat difoto.
Pak Broto duduk di balik meja yang tertutup tumpukan skripsi berklip warna-warni. Pulpen merahnya bergerak cepat di atas salah satu halaman, coretan demi coretan. Ia tidak mengangkat kepala ketika pintu diketuk, lalu terbuka.
"Kalau kalian datang ke sini cuma buat minta tanda tangan ACC lembar bimbingan atau nego perpanjangan masa studi, taruh saja di tumpukan sebelah kiri pintu. Jangan ganggu saya sebelum jam empat sore."
Abde melirik sekilas ke arah Almaz dan Xavier, lalu berdehem pelan. "Bukan itu urusannya, Pak."
Pulpen di tangan pak Broto berhenti bergerak sedetik, lalu kembali menggores kertas. "Kalau mau minta revisi nilai makalah metodologi sejarah, saya belum sempat baca satu halaman pun. Kelompok kalian dapat nilai C karena terlalu malas baca catatan kaki."
Xavier menutup pintu di belakangnya. "Pak... sumpah, kali ini bukan soal nilai makalah pengantar sejarah atau tugas hafalan arsip."
Pak Broto mendongak, menatap lurus mata Xavier. "Kalian nemu apa lagi?"
"Kami nemu sesuatu."
Pak Broto menghela napas panjang. "Semua mahasiswa sejarah selalu bilang mereka menemukan sesuatu yang revolusioner setiap kali mendekati masa ujian."
"Yang ini beda pak." Almaz melangkah lebih dekat ke meja pak Broto.
Pak Broto menoleh ke arah Almaz , matanya menyipit. "Minggu lalu ada anak semester dua yang ngotot menemukan peta harta karun Sultan Agung di bawah lantai musala kampus. Hasilnya? Itu cuma denah saluran pipa pembuangan limbah sanitasi tahun delapan puluhan."
Abde melangkah mendekat, berdiri di samping Xavier. Ia membuka tasnya, mengeluarkan jurnal ekspedisi, lalu meletakkannya di ruang kosong yang tersisa di meja, tepat di atas skripsi yang sedang dikoreksi.
Pandangan pak Broto menatap ketiganya lalu beralih ke tumpukan skripsi yang tertindih, lalu menatap jurnal itu. Tangannya terulur, ia membuka sampul kanvas itu dengan jempol dan telunjuk. "Log pelayaran." Ia membalik dua-tiga halaman dengan cepat, matanya menyapu baris demi baris tulisan copperplate. Sudut bibirnya sedikit terangkat. "Asli. Kertas daluwang buatan akhir abad kedelapan belas. Tinta iron-gall standar administrasi kompeni."
Abde tersenyum lebar, dadanya membusung sedikit. "Benar kan, Pak? Itu bukan barang replika atau replikasi museum."
"Terus?" Pak Broto menutup jurnal itu. "Kalian kira saya bakal terkejut nemu buku log pelayaran VOC di ruang arsip kampus kita? Gedung perpustakaan kita itu dulunya gudang transit inventaris kolonial abad sembilan belas. Menyimpan buku log rusak di gudang belakang itu sama lumrahnya kayak nemu tumpukan koran bekas di gudang tukang rongsokan."
Xavier mengembuskan napas, menyandarkan bahunya ke dinding rak buku. "Tuh kan... gue bilang juga apa."