HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #7

6. RAHASIA

Pagar besi hitam di sisi timur perpustakaan pusat dilingkari garis plastik merah-putih. Dua unit sedan berpelat hitam instansi negara terparkir tepat di depan anak tangga utama, mesinnya mati, lampu hazard-nya berkedip pelan.

Mahasiswa berkerumun di balik semak kamboja. Mereka menunjuk ke arah pintu kaca yang digembok rantai baru.

"Ada tim forensik kementerian di dalam," kata seorang mahasiswa sastra kepada temannya.

"Bukan, intelijen arsip."

"Semalam dosen sejarah dipanggil rektorat."

Abde melangkah mendekat, langkahnya melambat melihat garis pembatas di sekeliling perpustakasn. Tas ransel di bahunya tergantung miring.

Xavier menyusul dari belakang, ia turun dari mobilnya, lalu melangkah ke samping Abde.

Almaz tiba paling akhir. Ia berdiri di sebelah Abde, menatap dua pria berjas abu-abu yang sedang mencatat nomor seri gembok di beranda.

"Semalam..." Abde berbisik, matanya tidak lepas dari pintu perpustakaan, "...mereka gerak secepat itu?"

Xavier mendengus. "Kelihatannya kita baru saja bikin masalah paling sial seumur hidup."

Pintu koridor Fakultas Seni Budaya terbuka. Pak Darma melangkah keluar, wajahnya kaku. Matanya menyapu kerumunan mahasiswa, lalu berhenti ke tiga sosok di balik garis polisi. Ia melambaikan tangan pendek.

"Kalian bertiga," panggil Pak Darma datar. "Masuk."

Mereka saling berpandangan sejenak sebelum mengikuti langkah Pak Darma melewati koridor Fakultas Seni Budaya. Di ujung koridor, dua pria berjas berdiri menjaga pintu ruang rapat. Salah seorang mempersilakan mereka masuk tanpa sepatah kata.

Di atas meja rapat mahoni panjang, tiga botol air mineral bersegel, satu unit mesin perekam suara digital berlampu merah yang berkedip pelan. Dua orang pejabat kementerian berjas rapi duduk berseberangan. Pak Broto berdiri di sudut ruangan dengan tangan terlipat.

Pria berjas di sebelah kiri menekan tombol rekam. "Kronologi," ucapnya tanpa melihat ke Almaz, Abde dan Xavier. "Jam berapa kalian memasuki gudang arsip kemarin?"

Abde menelan ludah. "Pukul sepuluh kurang sepuluh."

"Siapa yang memegang kunci?"

"Pak Darma."

"Siapa yang menarik peti kayu?"

"Saya," jawab Abde.

"Siapa yang membuka sampul buku log?"

"Siapa yang menyentuh halaman delapan puluh sembilan?"

Pertanyaan itu meluncur cepat, tanpa jeda.

"Hei." Xavier menggeser kursinya hingga berdecit di atas lantai keramik "Kami ini saksi atau tersangka?"

Pria berjas itu mendongak. Matanya menyipit menatap tajam ke arah Xavier. "Kami hanya memastikan rantai penguasaan barang bukti steril. Jawab pertanyaannya, ada yang memotret halaman tersebut?"

Almaz menggeleng. "Nggak ada."

"Salinan digital?"

"Nggak ada."

Almaz melirik Abde.

Pintu di ujung ruangan terbuka. Profesor Soedirdjo masuk membawa kotak logam pipih berlapis perak.

Profesor Soedirjo meletakkan kotak perak di tangannya ke tengah meja. Petugas membuka kunci. Buku log ekspedisi bersampul kanvas kasar diangkat menggunakan sepasang sarung tangan putih.

Petugas menempelkan stiker barcode instansi di sampul buku, lalu merobek gulungan lakban coklat tebal.

Lakban melilit sampul buku, menyegel lembaran-lembaran tua ke dalam kantong pengaman khusus. Seluruh dokumen lain dari peti yang sama dimasukkan ke dalam kotak terpisah.

Pak Broto berdiri terpaku di dekat jendela, matanya mengikuti setiap gulungan lakban.

Petugas menyodorkan selembar formulir berita acara. "Tanda tangan di sini."

Lihat selengkapnya