HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #8

7. DUA PERJALANAN

Udara di dalam ruangan mendingin oleh embusan angin dari kisi-kisi jendela besi berukir, kontras dengan terik matahari Batavia yang memanggang jalanan batu di luar. Tidak ada suara dentum meriam atau derap sepatu kuda militer. Hanya suara gesekan ujung pena di atas kertas perkamen dan dengung pelan kipas angin gantung dari langit-langit kayu jati.

Aku duduk di atas kursi sandaran beludru hijau, topi segitiga berbulu domba kuletakkan di atas lutut. Di sekelilingku, meja-meja kerja besar dipenuhi tumpukan bundel laporan finansial setinggi dada. Para pejabat tinggi VOC berjas hitam kelimis lalu-lalang tanpa suara, membawa map-map tebal berlabel stempel lilin merah.

Pintu ganda di ujung ruangan berderit pelan. Seorang juru tulis membungkuk, mempersilakan aku masuk ke ruang kerja utama Gubernur.

Gubernur Hindia Belanda berdiri di dekat jendela, kedua tangannya melipat di punggung, menatap lurus ke arah kanal pelabuhan yang dipadati tiang-tiang kapal dagang.

"Kolonel Hendrick Van der Velde."

Aku bangkit berdiri, memberi hormat militer sekadarnya. "Tuan Gubernur."

Ia berbalik pelan. Wajahnya pucat, matanya dikelilingi lingkaran hitam keletihan birokrasi. Ia menunjuk kursi di seberang meja kerja dengan dagu. "Duduk."

Aku kembali duduk. Bundel laporan berikat benang sutra digeser ke hadapanku. "Anda tahu mengapa Dewan Tujuh Belas di Amsterdam mengirim Anda ke Hindia?" tanya Gubernur, menatapku tajam.

"Tidak, Tuan," jawabku tenang.

Gubernur tersenyum tipis. "Bagus. Karena jika Anda tahu, Anda mungkin akan menolak penugasan ini."

Ia melangkah kembali ke kursinya, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu mahoni. "Enam tahun terakhir, kas VOC di wilayah ini selalu mengalami defisit yang tidak masuk akal. Laporan dari gudang rempah tidak pernah cocok dengan manifest kapal yang berlabuh. Pajak dari pelabuhan pesisir hilang di tengah jalan. Muatan perak berkurang sebelum sempat dimasukkan ke dalam brankas benteng."

Aku mendengarkan dalam diam, jemariku meremas pinggiran topi di atas lutut.

"Kami membutuhkan seseorang yang bersih dari jaringan pedagang lokal di Batavia," lanjut Gubernur. "Seseorang yang tidak memiliki utang budi dengan para sindikat pelabuhan, dan yang terpenting... seseorang yang tidak mudah dibeli." Ia berhenti sejenak. "Nama Anda yang diajukan."

Dokumen penugasan dengan stempel basah Dewan Hindia disorongkan ke hadapanku.

"Mulai hari ini," suara Gubernur merendah, "Anda memimpin audit penuh atas seluruh administrasi keuangan dan logistik VOC di seluruh wilayah Hindia."

Aku berdiri meninggalkan ruangan itu beberapa menit kemudian.

Di sepanjang koridor batu benteng yang lembap, para pegawai administrasi yang berlalu-lalang menatapku sekilas. Sebagian membungkuk memberi hormat kaku, sebagian besar lainnya langsung mengalihkan pandangan, mempercepat langkah, dan menghindari kontak mata.

Saat menuruni anak tangga batu menuju halaman benteng, langkahku melambat sesaat.

Di antara kerumunan buruh angkut dan pedagang pribumi yang keluar-masuk gerbang, seorang perempuan berdiri memeluk keranjang anyaman di dadanya. Wajahnya tertutup caping bambu, tetapi matanya terangkat sejenak ke arahku, lalu segera menunduk ketika seorang serdadu melintas. Hanya beberapa detik.

Aku bahkan tidak mengenalnya. Namun entah mengapa, tatapan singkat itu tetap tertinggal di benakku ketika aku melanjutkan langkah menuju kantor administrasi.

Bau debu tua dan tinta asam mengepung rongga hidungku sejak matahari belum sepenuhnya naik ke puncak tiang bendera.

Lihat selengkapnya