Lantai kamar kos Almaz dipenuhi kertas buram yang tercoret angka-angka coret-coretan spidol hitam. Di atas meja lipat kayu, kipas pendingin laptop mendengung keras. Dua bungkus kopi sachet kosong berserakan di sebelah asbak rokok yang penuh puntung, layar kalkulator saku menampilkan deretan angka pengeluaran yang terus berkedip.
Abde menekan tombol kalkulator dengan ujung kuku jempolnya, mengulang perhitungan yang sama untuk ketiga kalinya.
"Bensin mobil dari sini ke titik kordinat pesisir habis minimal empat puluh liter," gumam Abde, suaranya datar. "Belum biaya tol luar kota, tiket penyeberangan feri antarpulau, parkir malam, sama cadangan solar kalau di tengah jalan pom bensin habis."
Xavier duduk bersandar di dinding sambil melipat tangan di dada, mendengus pelan. "Itu baru berangkat. Belum biaya logistik kita seminggu di lapangan."
Almaz menarik peta cetak wilayah yang dibentangkan di lantai. Ia menghitung ulang angka-angka yang ditulis Abde di selembar margin kertas.
"Kalau memang mau jalan..." Almaz melempar spidolnya ke atas meja, lalu mendongak menatap kedua temannya bergantian., "...berarti kita semua harus keluar modal."
Abde menutup buku catatan spiralnya lebih dulu. Xavier meraih kunci motor yang tergeletak di lantai, memutarnya sekali di ujung telunjuk sebelum menangkapnya kembali. Almaz melipat salinan jurnal Hendrick, memasukkannya ke dalam map bening, lalu berdiri tanpa banyak bicara.
Mereka keluar dari kamar kos ke arah yang berbeda.
Layar biru ATM berkedip di sudut minimarket yang sepi. Almaz memasukkan kartu debitnya ke dalam mesin, mengetik enam digit PIN. Nominal saldo tercetak di layar kecil hitam-putih, jari telunjuknya terhenti di atas tombol cetak struk.
Tabungan yang dikumpulkannya selama tiga tahun dari honor mengetik transkrip dosen dan sisa uang kiriman bulanan yang dihemat mati-matian, terpampang dalam angka yang menipis drastis.
Ia menekan tombol Selesai. Mesin mengeluarkan uang tunai lembar seratus ribuan dari slot bawah.
Ponsel di saku celananya bergetar panjang. Almaz menarik ponselnya keluar, menatap nama kontak ibu di layar ponsel. Ia menggeser tombol jawab, menempelkan layar ke telinganya.
"Lagi di mana, Maz?" suara di seberang terdengar berisik suara televisi rumah.
"Di luar, Bu"Almaz menatap lembaran uang di tangannya.
"Tadi ibu cek buku tabungan lewat m-banking buat transfer uang cicilan buku, kok saldonya banyak yang kepotong? Kamu buat apa?"
Napas Almaz tertahan di tenggorokan. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca mesin ATM yang gelap. "Ada kerjaan yang harus aku selesain, Bu."
Di seberang, suara helaan napas panjang terdengar samar.
Almaz mengakhiri panggilan tanpa penjelasan apa pun. Uang tunai di tangannya ia lipat rapi, lalu dimasukkan ke dalam amplop cokelat.
Di ruang tengah rumahnya, suara ketukan palu berdentum memenuhi ruangan. Ayah Abde berjongkok di lantai, memperbaiki engsel pintu lemari es tua yang kendur menggunakan obeng pipih. Di dapur, ibunya sibuk membolak-balik ikan asin di atas wajan dengan minyak yang mendesis tajam.
Abde duduk di kursi, menatap layar ponselnya yang menyala di atas meja makan. Aplikasi m-banking terbuka lebar, menampilkan halaman konfirmasi transfer.
Ayahnya berdiri sambil menyeka keringat di dahinya, melirik Abde sekilas. "UKT semester depan udah aman, De?"
Abde menelan ludah, iA mengangkat wajahnya, mengangguk pelan. "Udah, Yah."
Abde mengunci layar ponselnya, memasukkannya ke dalam saku celana.
Ayahnya kembali berjongkok di depan lemari es. Obeng kembali berputar perlahan di engsel yang sudah beberapa kali diperbaiki. Abde menggenggam ponselnya lebih erat.
Cahaya matahari senja terpantul di kap.obil hitam Xavier. Mobil berbelok masuk ke halaman bengkel yang merangkap showroom mobil bekas di pinggir jalan raya.
Pintu kantor kaca showroom terbuka dari dalam. Seorang perempuan berambut sebahu melangkah keluar, mengangkat sebelah alisnya. "Lho? Kok datang nggak ngabarin?"
Xavier turun dari balik kemudi, tersenyum tipis. "Om Darto ada, Wi?"
"Ada." Widya mendekat beberapa langkah. Tatapannya bergeser ke arah mobil yang masih menyala. "Emang ada apa?"
Xavier menepuk pelan kap depan mobilnya. "Mau nitip ini."
Dahi Widya berkerut dalam, ia berbalik membuka pintu kantor lebih lebar. "Om!" panggilnya ke dalam. "Xavier datang."